Kekuatan Musik Campursari

Dilihat 934 kali

Kangeku tanpa upama 

Mung sliramu kang dadi telenging ati

Wus dangu anggonku nunggu

Nanging tansah ngleledha

Ngelingana nalika ari kepungkur


Pitung sasi lawase nggonku ngenteni


Bagi yang terbiasa dan dhemen tembang campursari, syair di atas tidak terasa asing. Bawa Pangkur Pelog 6 dilanjutkan langgam 'Kangen', ciptaan Manthous dengan penyanyi cantik asal Sragen yang suaranya mendayu-dayu Anik Sunyahni. Tembang tersebut seakan menjadi pelipur lara, di sela-sela kepenatan dan kesibukan menjalankan aktivitas sehari-hari.


Campursari identik dengan ritus pesta. Demikian yang terjadi di desa-desa hampir di seluruh penjuru kebudayaan Jawa belakangan ini. Hampir semua perayaan, pesta, dan upacara ritual menampilkan Campursari. Terlebih saat pesta Agustusan, desa dan perkampungan urban bakal nanggap campursari sebagai media penyaluran ekspresi seninya. Genre musik ini nyaris mengalahkan musik dangdut sekalipun. Padahal dangdut popularitasnya melebihi jenis musik industri lainnya. Setidaknya di wilayah Kebudayaan Jawa, mereka harus mengakui betapa dasyatnya pengaruh musik Campursari.


Campursari adalah formula paling akhir dari sinkretisme kesenian Jawa dalam hal ini musik. Bisa diingat kembali perjalanan musik di Jawa Tengah, taruhlah misalnya di tahun 40-an dengan munculnya lagu 'Bengawan Solo' yang sampai saat ini masih membikin orang-orang mancanegara kesengsem. Karya komponis Gesang itu disebut keroncong (semacam musik Portugis yang diartikulasikan secara lokal). 


Musik jenis itu mengalami evolusi lebih lanjut dengan munculnya generasi pencipta pada dekade berikutnya setelah Gesang diantaranya adalah Anjar Any. Di tahun 60-70 an mulai populer musik yang disebut berjenis langgam antara lain karya Anjar Any Yen ing tawang ana lintang.  


Kemudian pada era 1980-1990 an musik-musik yang ada sebelumnya dicampur aduk sedemikian rupa dengan lagu-lagu lama yang diarensemen dengan format baru. Genre musik tersebut sering dikenal dengan sebutan campursari. Tokoh yang tidak asing pada waktu itu dan sekarang masih berkibar adalah Manthous dengan lagu-lagu legendarisnya seperti, Nyidhamsari, Tak Eling-Eling, Potretmu, Panjerina dan masih banyak lainnya yang telah diproduksi menjadi ribuan kaset maupun CD di pasaran bebas.


Mudah dicerna


Kekuatan campursari sebagai genre musik tradisional adalah mampu menggring semua jenis musik masuk dalam garapannya. Di samping praktis, juga dapat mewakili genre musik untuk memenuhi banyak keperluan. Bermula dari perpaduan keroncong dengan gamelan, sekarang malah bisa apa saja, dangdut, pop, musik rakyat, dan elemen musik jenis lainnya. Dia juga sangat menghibur. Mudah dicerna, tak banyak tuntutan kualitas atau profesionalisme konvensi yang ketat seperti genre musik klasik.


Di samping itu campursari juga mampu memberi image modern yang merefleksikan kehidupan perilaku komunitas pendukungnya. Anatomi general campursari  nampak pada perpaduan alat musik karawitan (pentatonis) dengan musik Barat (diatonis).Instrumen Barat yang biasa digunakan berupa alat musik keroncong. Meskipun begitu dia juga tidak menafikan masuknya  berbagai alat musik lain. Termasuk yang paling tren sekarang dicampur dengan dangdut dan musik pop lainnya (Majalah Gong, 2001)


Citra Modernitas


Fenomena campursari yang merebak dewasa ini merupakan ikon dari fenomena sosial budaya secara alami. Munculnya jenis musik ini merupakan refleksi komunitas Jawa sekarang yang sedang dalam kancah pergaulan interkultural dalam mengaktualisasikan modernitas. 


Tak bisa dipungkiri, realitasnya terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur campursari telah menjadi buah industri yang laris. Simak saja, dalam sebulan pasti ada dua atau tiga kaset yang beredar. Kaset-kaset campursari itu lahir dari perusahaan-perusahaan  rekaman di daerah seperti, Puspita Record, Dasa Record, Maju Lancar Record, Fajar Record, dan beberapa industri rekaman lainnya.


Secara kultural bagi komunitas pendukung campursari, jenis musik hibrida ini tidak bisa dipisahkan dengan Manthous, yang bukan saja sebagai primadona, tapi sekaligus raja yang menjadi pioner berkembangnya campursari. Manthous identik dengan campursari, begitu pula sebaliknya, campursari adalah Manthous. Bersama kelompok bentukannya Campursari Gunung Kidul (CSGK) adalah mentor yang menjadi pusat orientasi bagi yang memainkan musik kegemaran semua kalangan ini.


Pengaruh yang kuat di daerah tidak bisa dielakkan dengan munculnya banyak epigon-epigon ke wilayah komunitas Jawa. Fenomena tersebut ditandai munculnya banyak kelompok. Di Kabupaten Mageang saja, katakanlah masing-masing kecamatan mempunyai 3 kelompok, maka kumulatif total grup bisa mencapai 63 kelompok. 


Dilihat dalam konteks otonomi daerah campursari ini menarik, karena pertama-tama dia tumbuh menjadi industri dan kedua telah menunjukkan geliat dalam mengekspresikan budaya lokal yang selama ini mulai ada keterpenggalan generasi. Diharapkan dengan berkembangnya musik campursari ini dapat memberi nilai tambah, terutama sebagai tali perekat untuk lebih mengenalkan seni budaya Jawa yang sesungguhnya ke berbagai lapisan masyarakat.



Ch. Dwi Anugrah

Ketua Sanggar Seni Ganggadata

Jogonegoro, Kec. Mertoyudan 

Kabupaten Magelang


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar