Jangan Lupakan RRI

Dilihat 740 kali
Foto pagelaran wayang di Radio Gemilang FM Kabupaten Magelang

Para dalang di era 1960-1980 an banyak  mengungkapkan "Durung kasebut dhalang yen durung nate pentas ana RRI (Belum disebut dalang kalau belum pernah pentas di RRI). Di masa silam  RRI (Radio Republik Indonesia) laksana juru selamat  yang menggairahkan  hidup seniman tradisi.


Tak hanya sederet  seniman yang berutang besar terhadap institusi tersebut. Kita sebagai bangsa Indonesia pantas mengucapkan terima kasih lantaran RRI berhasil meletakkan fondasi  kebudayaan nasional melalui  stategi menyiarkan ragam budaya daerah ke publik. Sampai saat ini dinamika perjalanan waktu RRI dalam menjalankan tugas negara sudah 75 tahun. 


Cibiran sinis


Sayup-sayup mamang masih terdengar cibiran sinis bahwa RRI Tak lebih  sebagai corong pemerintah. Tetapi bila kita mengamati secara faktual lembaga siaran publik yang mengusung slogan "sekali di udara tetap di udara" ini mustahil dalam operasionalnya melenceng dari  misi mulia yang dianyam pemerintah sejak berdiri. 


Laporan resmi Kementerian Penerangan (1953) mengomunikasikan, posisi RRI sebagi media budaya pemerintah  hendak mengumpulkan sekaligus  menyiarkan kebudayaan daerah agar penduduk Indonesia akrab dengan khasanah  kebudayaan asli Nusantara.


Serpihan budaya tersebut digali,  kemudian didekatkan ke masyarakat dengan pendekatan komunikatif dan menghibur.  Di sini, warga diajak  merajut semangat keindonesiaan  dengan mengenali  budaya daerah yang terserak. Fakta tersebut tak terbantahkan kalau RRI  sejak awal berdirinya berperan besar dalam membangun semangat kebhinekaan.


Senapas dengan RRI Yogyakarta, RRI Surakarta  diakui sebagai  salah satu saka guru (tonggak sejarah)  budaya Jawa. Lembaga kebudayaan itu punya kontribusi dan andil besar dalam membina  seni pertunjukan Jawa seperti wayang kulit, karawitan, kethoprak, dan wayang orang (Heri Priyatmoko, 2016).


Siaran RRI  bisa dibilang kualitasnya terjaga. Dampak ikutannya, RRI kian menjelma menjadi kiblat baru bagi seniman tradisi yang semula arah hadap mereka adalah keraton. Bukan hanya mengurusi  perkara pelestarian, pengembangan, dan penyebarluasan seni pertunjukan, RRI memanggul tugas membangun  opini publik  serta mendongkrak  daya apresiasi  masyarakat. Bisa dikatakan aneka siaran seni pertunjukan dari RRI  itu bagaikan anak panah  yang mampu menembus kalbu setiap pendengarnya. 


Sampai saat ini siaran RRI menjadi parameter dari radio di seluruh Indonesia baik itu radio milik pemerintah maupun swasta. Di tengah gempuran budaya digital dan konsumtif ini radio masih diyakini merupakan suatu alat komunikasi yang proses penyampaian pesan atau informasi yang disiarkan tanpa melalui proses proses yang rumit.


Radio dapat menyampaikan suatu informasi kepada khalayak secara langsung dan lebih efektif. Begitu suatu pesan diucapkan oleh seorang penyiar atau operator, pada saat itu juga dapat diperoleh dan diterima oleh khalayak secara langsung, bagaimana pun jauhnya sasaran yang dituju radio dapat menjangkaunya. Hal itulah yang menjadi daya tarik suatu radio yang mana merupakan suatu media yang tepat dalam penyampaian suatu infomasi atau pesan.


Apresiasi tinggi


Penulis teringat ketika masih kecil sering diajak orang tua nonton wayang kulit  di RRI Yogyakarta yang pentasnya setiap bulan sekali. Antusiasme dan apresiasi penonton sangat tinggi. Ketika pentasnya Sabtu malam, pada hari Sabtu pagi harus sudah pesan tiket masuk agar tidak kehabisan. 


Dalang  yang pentas pun sudah punya reputasi dan jam terbangnya tinggi, seperti Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Hadi Sugito, Ki Jaya Kandar dan sebagainya.  Jika tidak ada waktu ke Yogya, penulis sempatkan mendengarkan  pagelaran wayang kulit yang disiarkan dari RRI tersebut semalam suntuk lewat media radio rumah. 


Selain itu di RRI Surakarta   setiap bulan sekali  juga mengadakan  pergelaran wayang kulit terbuka untuk umum dengan dalang pilihan alias terseleksi ketat. Kendati komersiil atau dipungut biaya karcis, penonton  tetap membanjir. Bahkan jauh hari mereka berusaha mengantongi tiket  jika yang tampil adalah dalang-dalang favoritnya  semacam Nartosabdho, Manteb Soedarsono, Anom Soroto, atau Darman Gondodarsono.


Sebetulnya setiap malam Mingu tertentu siaran pergelaran ini bisa diikuti  lewat radio transistor yang saat itu merebak  sampai ke pelosok desa. Namun, kepuasan hati untuk menyaksikan langsung  pertunjukan,  mengikuti kelincahan dalang bermain sabet (mengolah gerak wayang), dan berinteraksi sosial bersama penonton lainnya  merupakan momentum isitimewa yang menimbulkan kebahagiaan tersendiri.


Dalam dinamika perjalanan waktu, RRI menjadi tonggak sejarah untuk dapat mengorbitkan seniman dikenal publik. Kiranya semua seniman dan pihak-pihak yang peduli pada seni, perlu berbuat sesuatu untuk RRI dan radio-radio daerah. Para pengusaha bisa menyisihkan sebagaian dananya melalu program CSR (Corporate Social Responsibility) untuk mendukung eksistensi radio dalam  program penguatan budaya lokal. 


Sedangkan seniman yang sudah memiliki reputasi dan jam terbangnya tinggi, bisa mencarikan jejaring agar media radio tempat semula mereka singgah mampu  tetap  eksis dan terus mengibarkan siaran budaya yang sarat akan nilai-nilai humaniora.



Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.

Ketua Sanggar Seni Ganggadata

Jogonegoro, Kec. Mertoyodan

Kabupaten Magelang 

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar