Implementasi Pembelajaran Tatap Muka

Dilihat 306 kali
Pembelajaran tatap muka di SMPN 1 Bandongan

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Provinsi Jawa Tengah telah dilaksanakan sejak akhir Agustus 2021. Tatap muka disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Untuk daerah yang masih level 4, tetap dilakukan secara daring. Sedangkan daerah yang level 1-3 bisa dilakukan dengan pembelajaran tatap muka terbatas.


Dasar penyelenggaraan PTM tersebut adalah SKB 4 Menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada tahun Ajaran 2020/2021 dimasa Pandemi Covid-19.


PTM di Provinsi Jawa Tengah diikuti 2.539 sekolah, mulai tingkat pendidikan dasar sampai menengah. Seperti imbauan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo agar implementasi PTM bisa sesuai harapan dan dapat dikatakan aman, semua elemen masyarakat perlu menerakpan prinsip kesiapan secara simultan.


Adapun prinsip-prinsip tersebut meliputi, siap sekolahnya, siap gurunya, siap peserta didiknya, siap orang tuanya, dan siap daerahnya. Prinsip-prinsip tersebut, harus terpadu sinergis sebaik mungkin. Sebagai misal, sekolah siap menjalankan PTM, namun peserta didiknya dan orang tuanya masih ragu-ragu, tentunya akan menggugurkan pembelajaran tatap muka tersebut (Suara Merdeka, 31/8/2021).


Pembelajaran Nyaman


Sekolah yang siap dengan pelaksanaan tatap muka, tentunya sudah mempersiapkan jauh-jauh hari, berbagai infrastruktur di sekolah agar peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan nyaman. Baik itu pengaturan kelas, tempat duduk, ventilasi, tempat cuci tangan, dan perangkat infrastruktur lain. Termasuk juga regulasi jumlah peserta didik yang masuk hanya 50 persen dari jumlah peserta didik di kelas tersebut.


Namun yang perlu diingat selain infrastruktur tentunya perlu dipersiapkan aspek lain yang tak kalah pentingnya, seperti teknis peserta didik datang ke sekolah. Mereka yang datang ke sekolah tentunya harus diantar dan pulangnya dijemput keluarganya.Apabila mereka naik angkutan umum potensi resiko tertular cukup besar, karena bejubelnya penumpang yang ada di dalam angkutan tersebut.


Di samping itu guru perlu memilih materi yang esensial atau penting saat pembelajaran tatap muka. Seperti pembelajaran praktik, peserta didik perlu pemahaman teknis dari materi yang diberikan guru, yang tidak mungkin dilakukan secara daring. Sedangkan untuk ranah pembelajaran teori yang tidak menuntut pemahaman psikomotorik, bisa diberikan secara daring.


Dalam kesempatan tatap muka tersebut guru dapat menyisipkan makna refleksi dari mata pelajaran yang diberikan. Refleksi di sini dimaknai sebagai proses yang mengajak peserta didik untuk mengendapkan arti manusiawi tentang materi yang dipelajari dan pentingnya bagi sesama. Banyak nilai kemanusiaan yang ditawarkan oleh masyarakat, maka dibutuhkan cara-cara yang dapat membantu peserta didik membentuk kebiasaan menguji nilai-nilai dan korelasinya antara materi pelajaran dengan kehidupan nyata di masyarakat (St. Kartono, 2009).


Dalam proses refleksi ini daya ingat, pemahaman, daya khayal, dan perasaan digunakan untuk menangkap arti dan nilai-nilai kehidupan. Untuk itu guru perlu mengkreasi materi dengan memasukkan aspek refleksi tersebut dengan mengorelasikan pemahamannya akan konteks peserta didik beserta pengalaman yang dihadapi.


Sebagaimana saat pandemi ini, peserta didik diajak untuk menangkap hikmah yang dapat diambil dan mencarikan jalan keluar agar terhindar dari virus tersebut. Bisa juga peserta didik ditantang untuk dapat mencarikan solusi tentang nasib teman-temannya atau warga di sekitarnya yang terpapar, misalnya dengan menunjukkan empati sosialnya dengan membantu dukungan baik moral maupun material.


Dukungan Semua Pihak


Pembelajaran tatap muka akan dapat terwujud bila mendapat dukungan semua pihak, baik keluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua pun harus juga sepenuh hati untuk mendukung kebijakan ini. Pihak sekolah akan menerapkan protokol kesehatan ketat ketika melaksanakan kebijakan tersebut. Tentunya prinsip jaga sekolah perlu digaungkan kembali dalam ranah praksis. Peserta didik yang berada di sekolah saat PTM berada dalam zona kesehatan, perlindungan, dan dipastikan aman sehingga mereka tak perlu khawatir saat belajar.


Pembelajaran jarak jauh yang cukup lama, bila tidak segera disikapi bisa menyebabkan learning lost (kehilangan kesempatan belajar). Untuk itu PTM dengan segala perangkat pendukungnya termasuk kesehatan perlu segera dilakukan, walaupun secara bertahap. Karena disadari metode pembelajaran secanggih apapun secara daring, tidak dapat efektif sebagaimana pembelajaran tatap muka.


Untuk itu kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan agar PTM berjalan sesuai harapan. Di sini konsep Tri Pusat Pendidikan ajaran Ki Hadjar Dewantara yang menekankan kerjasama sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu dioptimalkan kembali dalam tataran praksis.



(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar