Fungsi dan Makna Wayang Gunungan

Dilihat 226 kali
Foto: Pixabay.com

Dalam setiap pertunjukan baik itu wayang kulit ataupun wayang golek selalu diawali dan diakhiri dengan munculnya wayang jenis gunungan. Penggunaan media gunungan yang dilakukan oleh Ki Dalang bukan tanpa maksud. Di dalamnya terkandung makna yang sangat mendalam bila dikaji dari sudut fungsi maupun pemaknaannya.


Dalam wayang gunungan ditengarai ada beberapa fungsi yang dapat menjadi parameter dalam penyajiannya. Diantaranya gunungan dipergunakan dalam pembukaan dan penutupan cerita atau lakon wayang, seperti halnya layar yang dibuka dan ditutup pada pentas teater. 


Fungsi lainnya gunungan dapat sebagai indikator pergantian adegan maupun sebagai visualisasi fenomena alam seperti angin, samudra, gunung, juga halilintar. Ada lagi fungsi yang tak kalah menariknya gunungan dapat membantu menciptakan efek tertentu seperti tokoh yang menghilang atau berubah bentuk (Muhajirin, 2010).


Makna Gunungan


Gunungan adalah wayang berbentuk gambar gunung beserta isinya. Di bawahnya terdapat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan perisai di depan gerbang istana. Di sebelah atas gunung terdapat pohon kayu yang dibelit oleh seekor ular naga. Dalam gunungan tersebut terdapat juga gambar berbagai binatang hutan. Gambar secara keseluruhan menggambarkan keadaan di dalam hutan belantara.


Gunungan melambangkan keadaan dunia beserta isinya. Sebelum wayang dimainkan, gunungan ditancapkan di tengah-tengah layar, condong sedikit ke kanan yang berarti bahwa lakon wayang belum dimulai, bagaikan dunia yang belum beriwayat. Setelah dimainkan, gunungan dicabut, dijajarkan di sebelah kanan.


Gunungan dipakai juga sebagai tanda akan bergantinya lakon/tahapan cerita. Untuk itu gunungan ditancapkan di tengah-tengah condong ke kiri. Selain itu, gunungan digunakan juga untuk melambangkan api atau angin. Apabila gunungan dibalik, terdapat visualisasi gambar cat berwarna merah.  Warna inilah yang melambangkan api.


Gunungan juga dipergunakan untuk melambangkan hutan rimba, dan dimainkan pada waktu adegan rampogan atau pada saat pasukan siap berbaris dengan bermacam senjata untuk maju berperang. Dalam hal ini gunungan bisa berperan multi fungsi baik sebagai tanah, hutan rimba, jalanan dan sebagainya. Sang Dalang berperan sebagai komunikator jalannya cerita. Setelah lakon selesai, gunungan ditancapkan lagi di tengah-tengah layar, melambangkan bahwa cerita sudah paripurna.


Dilihat dari klasifikasinya ada dua macam gunungan, yaitu gunungan blumbangan dan gunungan gapuran. Gunungan blumbangan atau gunungan perempuan ada sejak zaman Kerajaan Demak. Kemudian pada zaman Mataram diubah dengan adanya gunungan gapuran atau gunungan laki-laki. Gunungan sering juga dikenal dengan nama kayon. Kayon berasal dari kata kayun (bahasa Kawi). Gunungan mengandung ajaran filsafat yang tinggi, yaitu ajaran mengenai kebijaksanaan dan juga tuntunan moral. 


Simbol Kehidupan


Pada dasarnya gunungan merupakan simbol kehidupan manusia. Setiap gambar dalam ornamen di dalamnya melambangkan seluruh alam raya beserta isinya mulai dari tingkatan kehidupan manusia dengan segala karakternya, hewan, hutan, serta lingkungan sekitar yang melingkupi. Bentuk gunungan yang meruncing ke atas melambangkan bahwa hidup manusia ini tujuan akhirnya akan menuju ke atas secara vertikal yaitu berserah kepada Tuhan.


Sedangkan rangkaian gambar dalam gunungan mempunyai makna yang melambangkan kehidupan manusia. Di antaranya adalah gambar pohon yang melambangkan kehidupan manusia di dunia ini, bahwa Tuhan telah memberikan perlindungan kepada umatnya. Beberapa jenis hewan yang berada di dalamnya melambangkan sifat, tingkah laku, dan watak yang dimiliki setiap orang.  


Gambar samudra melambangkan pikiran manusia dan juga keinginan belajar yang tidak mengenal batasan usia sepertu luasnya samudra yang tiada bertepi. Ornamen gambar berbentuk rumah pendapa melambangkan suatu tempat tinggal atau negara yang di dalamnya terdapat kehidupan yang aman, tenteram, dan bahagia. 


Detail gambar dua raksasa penjaga pintu gerbang dapat diinterpretasikan melambangkan penjaga alam gelap maupun terang. Di dunia ini mesti ada sifat jahat atau buruk. Ornamen visualisasi pintu gerbang dengan jenjang bertingkat, melambangkan pintu masuk dari alam fana ke alam baka. 


Sedangkan jenjang bertingkat merupakan lambang jalan penuntun agar manusia menaati tuntunan agama. Pada bagian atas wayang gunungan terdapat gambar mustika sebagai lambang puncak tujuan kehidupan manusia. 


Dengan demikian dapat dimaknai bahwa dalam wayang gunungan terdapat simbol tuntunan moral kepada manusia selama hidup di dunia. Di tengah euforia budaya digital saat ini, ternyata para pujangga di Nusantara pada masa lampau sudah mampu menciptakan pemaknaan ajaran kehidupan yang sampai saat ini masih tetap relevan untuk diimplementasikan pada semua lini kehidupan manusia. 


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Mertoyudan, Kabupaten Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar