Estetika Relief Candi Borobudur

Dilihat 417 kali

Sebagaimana diketahui publik, sampai saat ini Candi Borobudur masih tegar berdiri dengan kokoh. Kakinya bagaikan menancap di tanah sampai ke dasar bumi, yang tak tergoyahkan oleh badai apapun. Candi ini secara geografis berada di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.


Dalam kurun waktu cukup lama, candi yang sampai sekarang masih menjadi sumber inspirasi berbagai disiplin ilmu ini, dibangun pada zaman keemasan Wangsa Syailendra sekitar 75 tahun lalu, saat pemerintahan Raja Samaratungga.


Candi Borobudur sebagai puncak peradaban Nusantara itu, berdiri kokoh di dataran yang didukung keindahannya oleh tujuh gunung yang mengelilingi, yakni Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Sindoro, Sumbing, dan seakan ditopang langsung oleh perbukitan Menoreh. Perbukitan yang membujur memanjang bagaikan barisan pasukan yang panjangnya tiada bertepi. 


Tak bisa dipungkiri, peninggalan Dinasti Syailendra tersebut, adalah Mahakarya budaya karya putra Nusantara yang telah diakui dunia, sebagaimana rekognisi dari UNESCO. Candi tersebut merupakan candi berlatar belakang agama Buddha terbesar di Pulau Jawa. Bila melihat letaknya, tentu lokasinya dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu.  


Secara semiotika, letak Borobudur berdekatan dengan pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Elo dan Sungai Progo. Bila dirunut dari makna simbolisnya, seolah berorientasi ke dua sungai suci di India, yaitu Sungai Gangga dan Sungai Yamuna. Di pertemuan kedua sungai tersebut, didirikan bangunan-bangunan sebagai tempat peribadatan. Selain itu, secara faktual, sungai-sungai besar mengandung batu-batu besar sebagai bahan baku pembuatan candi (Timbul Haryono, dkk., 2011).


Nilai Luhur Kemanusiaan


Candi Borobudur dibangun bukanlah tanpa tujuan. Pada setiap sudut Candi Borobudur terdapat ornamen yang menggambarkan nilai luhur kemanusiaan. Pada dasarnya, candi ini merupakan candi yang kental dengan ajaran Buddha. Dari objek yang ada di kompleks candi, secara keseluruhan menceritakan tentang hakikat kehidupan manusia. Ditelisik dari bangunan candi tersebut, memuat pesan moral sebagai refleksi diri yang semuanya tervisualisasikan dalam estetika reliefnya.  


Pada dasarnya relief adalah suatu seni pahat atau ukiran tiga dimensi pada media batu. Relief biasanya terdapat pada bangunan candi, monumen atau prasasti. Ukiran atau pahatan pada relief memiliki arti mendalam. Pada relief terukir dengan indah cerita sejarah masa lampau yang berisi ajaran berharga atau filosofi nenek moyang untuk menjadi pelajaran generasi berikutnya.


Candi Borobudur menjadi istimewa karena adanya 2.672 panel relief. Sejumlah 1.460 panel relief cerita (naratif), dan 1.212 panel relief dekoratif. Relief naratif terdiri atas lima gugus relief, yaitu pertama relief Karmawibhangga (160 panel). Relief ini tersimpan di lantai dasar Candi Borobudur. Rangkaian relief Karmawibhangga mengisahkan perihal hukum sebab-akibat perbuatan dalam kehidupan sehari-hari manusia yang bersifat universal.


Kedua, Relief Jataka (500 panel). Relief ini tepatnya  berada di dinding luar lantai 3. Relief Jataka mengisahkan kelahiran masa lampau Bodhisattwa dalam upaya menyempurnakan kebajikan demi mencapai pencerahan. Ketiga, Relief Avadana (120 panel di lantai 3, dan 100 panel di lantai 4). Dalam relief Avadana ini berisi kisah-kisah moral yang dapat menjadi tuntunan hidup, seperti kisah Maitrakanyaka.


Keempat, Relief Lalitavistara (120 panel di lantai 3). Detail dalam relief  ini terletak di lantai 3 yang berisi kehidupan Buddha dari sebelum masa kelahiran sampai saat pengajaran pertamanya di Taman Rusa. 


Kelima, Relief Gandavyuha (460 panel). Relief ini berada di lantai 4-6 yang mengisahkan  perjalanan tokoh Sudhana menemui para mitra dan guru kebajikan untuk merealisasikan pencerahan akal budi (Bambang Eka P., 2021).


Ajaran Kehidupan


Relief-relief di Candi Borobudur dapat dibaca sesuai arah jarum jam dengan sebutan pradaksina yang artinya sebelah Timur. Keseluruhan relief mencerminkan ajaran kehidupan Sang Buddha. Seperti dalam relief Karmawibhangga berisi ajarah hidup manusia pada saatnya nanti akan menuai dari perbuatannya atau ngundhuh wohing pakarti.


Visualisasi estetika relief di Candi Borobudur merupakan ensiklopedi kehidupan kultural yang melampau zamannya. Di dalamnya banyak sumber informasi yang dapat digali. Selain ajaran moral, juga dapat dipelajari kehidupan sosial komunitasnya, arsitektur rumah, dan berbagai estetika seni, baik seni rupa maupun seni pertunjukan.


Dengan demikian, kiranya mulai sekarang generasi milenial perlu diperkenalkan secara detail makna dan filosofis relief tersebut melaui berbagai terobosan. Langkah tersebut bisa dilakukan bersama antara Balai Konservasi, lembaga pendidikan, dan kelompok masyarakat dalam memberikan diseminasi pengenalan makna relief tersebut secara komprehensif. 


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar