Estetika Mural Di Ruang Publik

Dilihat 128 kali
Yulius Iswanto sedang melukis mural bertemakan wayang di Dusun Karangwatu Muntilan

Yulius Iswanto warga Karangwatu, Desa Pucungrejo, Muntilan, Kabupaten Magelang terlihat serius menorehkan kanvasnya di dinding-dinding tembok tinggi tersebut. Bersama teman-temanya di Desa Pucungrejo, ia menggambar lukisan di dinding tembok yang dikenal dengan nama mural itu bertemakan wayang.


Detail goresannya cukup tajam. Visualisasi karakter  goresan lukisan wayang tersebut sudah selaras dengan standar normatif dalam detail wayang kulit. Ia mengaku  keinginannya mengambil tema wayang dalam lukisan muralnya tak lain karena wayang di samping sebagai tontonan juga memiliki nilai tuntunan sebagai pembelajaran moral. Di samping itu, sampai saat ini lukisan yang bertemakan wayang sangat sulit dijumpai. 


Harapannya publik kembali disegarkan dan juga diingatkan akan nilai-nilai luhur yang tercermin dalam filosofis wayang agar berempati untuk menjaga dan memiliki. 


Tema wayang dalam lukisan mural karya Yulius Iswanto tersebut menarasikan tokoh wayang Wisanggeni. Dalam epos Mahabharata sosok Wisanggeni merupakan tokoh fenomenal. Ia putra Arjuna dengan Bidadari Dresanala. Tokoh ini merupakan keturunan para dewa. Kakeknya adalah Batara Brahma dewa penguasa api. Selama hidupnya, Wisanggeni selalu mendarmabaktikan untuk kemanusian. 


Ia pernah menyatukan keluarganya, karena ibunya pernah diculik untuk diperistri Prabu Dewasrani raja Tunggulmalaya. Ia pun berani menyadarkan Batara Guru rajanya para dewa yang merestui penculikan tersebut. 


Nilai karakter dalam sosok Wisanggeni yang bisa diambil  adalah darmabaktinya untuk kemanusiaan dan keberaniannya meluruskan tindakan yang tidak pada tempatnya. 


Ada hal yang menarik dari Ilustrasi di atas. Kenyataannya manusia modern sekarang ini banyak yang telah melakukan kreativitas pesan dinding melalui kreativitas  mural. Bahkan sampai saat ini mural telah menjadi medan kreatif yang menghimpun banyak ekspresi dan bentuk visualnya. 


Ruang publik


Mural memang seringkali dikorelasikan dengan sebuah istilah ruang publik. Ia dianggap sebagai siasat seni untuk  merebut ruang publik. Ruang publik di sini tentunya memiliki interpretasi bermacam-macam. Namun lebih tepatnya merujuk pada ruang kosong sebagai media berekspresi.


Tentu ruang publik ini tidaklah benar-benar kosong, karena seringkali berada dalam penguasaan negara yang hanya bisa digunakan dengan izin. Sebut saja, Samuel Indratma, Arie Dyanto, dan beberapa rekannya ketika pertama kali membuat mural di dinding tembok penyangga jembatan Lempuyangan Yogyakarta, mereka meminta izin  pada pemerintah Yogyakarta. Mereka bukan hanya mendapatkan izin, bahkan juga mendapatkan dana tambahan untuk membeli cat (Majalah Gong edisi 111, 2009).


Atas usaha bersama yang dimotori dari Samuel dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Yogja Mural Forum, di beberapa bagian tiang pancang dan tembok-tembok di jembatan layang Lempuyangan Yogyakarta, sejumlah seniman lokal menorehkan  kisah-kisah Jaka Tarub, Ramayana, dan Perundingan Sultan Agung dengan J.P. Coen  Gubernur Jendral VOC dalam lingkungan Keraton Mataram. 


Usaha para perupa mural itu telah membuat tempat di seputar jembatan layang Lempuyangan menjadi semarak. Bisa dibayangkan, tanpa sentuhan mural para perupa, lingkungan bawah Jembatan Lempuyangan hanya akan menghadirkan tiang pancang beton berwarna semen abu-abu yang kokoh, sekaligus tidak ramah terhadap lingkungan. Untung imajinasi para perupa dan kerja kerasnya telah menyulap  tempat tersebut menjadi  sangat berbeda dan sekarang nyaman dikunjungi.  


Dari Yogyakarta seni mural sebarannya kini meluas sampai ke beberapa daerah seperti Magelang, Purworejo, Kebumen, Temanggung, dan daerah lainnya. Bisa dikatakan di semua kota atau kabupaten, seni mural sudah memasyarakat. Selain untuk media komunikasi, mural-mural itu dapat menciptakan ruang sosial di tengah-tengah kota. 


Citra peradaban


Kota kini kian menyediakan  fasilitas bagi kehidupan masyarakatnya. Mulai dari ruang-ruang privat hingga ruang publik. Keunikan demi keunikan kehidupan perkotaan kian mewarnai peradaban manusia dewasa ini. Peradaban dan kebudayaan kota menjadi citra atau brand image kehidupan sosial komunitasnya. 


Salah satu bentuk fisik yang difasilitasi kota adalah  bangunan-bangunan  atau gedung-gedung mulai dari yang berukuran kecil hingga besar dan tinggi dengan istilah gedung pencakar langit. Bangunan atau gedung tersebut dengan sendirinya menyediakan dinding-dinding dengan berbagai bentuk ukuran dan fungsinya. Di sela-selanya ada ruang kosong strategis yang bisa digunakan untuk berekspresi.


Pemural melihat dinding kota sebagai ajang kreativitasnya. Bagi pemural, dinding-dinding kota adalah  bentangan kanvas-kanvas kosong yang siap untuk untuk dilukis. Seorang perupa dengan ide kreatifnya menjadikan kanvas dinding kota itu sebagai media pengungkapan ekspresi estetiknya.


Dalam praktik dan perkembangannya, pembuatan mural sebagai lukisan dinding dikerjakan seniman atas pesanan penguasa kota atau pihak/institusi-institusi tertentu yang memandang penting perekaman dan pencitraan suatu peristiwa atau sekadar upaya agar suatu wilayah  kota lebih menarik dan indah. 


Kemudian, perkotaan menjadi sejenis galeri mural atraktif yang bisa dinikmati oleh siapa saja, bahkan tak sedikit  yang menjadikan sebagai icon atraksi pariwisata. Di kota-kota besar maupun kecil mulai menyemarakkan suasana kotanya dengan lukisan mural dalam berbagai variasinya. 


Oleh karena mural ditempatkan di ruang publik, maka harus memperhatikan aspirasi publik. Di sini publik merupakan entitas majemuk. Bila penguatan masyarakat warga dan demokrasi merupakan komitmen bersama, maka mural dan perupanya harus memahami situasional tersebut tanpa meninggalkan ranah estetikanya.


Ch. Dwi Anugrah

Ketua Sanggar Seni Ganggadata 

Jogonegoro, Kec. Mertoyudan,

Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar