Cita-Cita Presiden Jokowi

Dilihat 214 kali

Oleh : Soekam Parwadi*


Sembilan kerangka pikir sekaligus agenda prioritas Presiden Joko Widodo populer disebut Nawa Cita. Salah satu dari sembilan cita-cita itu adalah "Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional".  Bagi kebanyakan masyarakat pedesaan yang kegiatan usahanya di bidang pertanian, merasa bahwa cita-cita presiden itu sangat tinggi dan cukup sulit untuk dicapai secara cepat. Tetapi sebagai seorang presiden, cita-cita itu sangat baik dan tentu benar untuk perkembangan ekonomi sekarang ini.

Produktivitas 

Membicarakan produktivitas rakyat, sebenarnya cukup luas cakupannya. Pegawai pabrik bekerja mendapat upah sebulan Rp 2 juta, itu produktivitas pekerja. Petani memperoleh laba dari usaha tani padinya Rp 1,5 juta/ bulan/ ha, itu produktivitas petani. Pedagang sayur memperoleh laba usaha Rp 6 juta/ bulan, itu produktivitas pedagang. Jadi produktivitas rakyat diukur dari tingkat pendapatannya per bulan untuk kinerja tertentu. Pekerja pabrik, petani, pedagang dalam bekerja harus bersaing dengan sesama rakyat, bahkan sekarang persaingannya bukan antar rakyat se-desa, se-kecamatan, se-kabupaten atau se-negara, tetapi sudah sesama rakyat antar negara. Saya waktu ke Arab Saudi melihat, pekerja Indonesia bersaing dengan pekerja dari Pakistan dan Filipina. Waktu saya di Singapura, melihat persaingan anatara pedagang kita dengan pedagang Malaysia dan Singapura. Petani kita, sekarang harus bersaing dengan petani Thailand, Vietnam, Malaysia dalam menghasilkan padi, sayur dan buah-buahan. Petani Lereng Sumbing dan Sembalun - NTB harus bersaing dengan petani China dalam menghasilkan Bawang putih sebagai salah satu komoditas (mata dagangan) pangan di dunia. Jadi, persaingan usaha, produksi, pedagangan sekarang sudah sangat terbuka di dunia. Kalau pekerja kita, petani kita, pedagang kita tidak memperbaiki kinerjanya maka dipastikan kita akan kalah bersaing dengan mereka. Bersaing di area pasar internasional.

Harus mulai dari pasar

Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, pembangunan ekonomi telah diorientasikan ke pasar. Sebelum Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi Nabi sekaligus Rasul Allah pada usia 40 tahun, Muhammad kecil (12 tahun) yang yatim-piatu telah di"program" oleh Allah dengan kegiatan perdagangan hingga usia 38 tahun. Artinya, kegiatan perdagangan itu adalah kegiatan ekonomi yang sangat erat dengan pasar. Berawal dengan mengikuti pamannya dalam berdagang, hingga bekerja sebagai tenaga pemasaran atau marketing dari pengusaha besar Siti Hadijah, Muhammad remaja setiap hari terlibat dalam mekanisme perjalanan suatu barang dari hulu hingga hilir. Tiga hal prinsip yang menjadikan Muhammad tersohor sebagai pelaku pasar adalah "jujur - menepati janji - tidak menyusahkan pembeli".  Tiga hal itulah esensi utama dari "daya saing di pasar", baik lokal - regional hingga pasar internasional seperti yang dicita-citakan Jokowi sebagai presiden. Nabi SAW mempraktekkan tiga prinsip itu dan diikuti oleh para sahabatnya sehingga memiliki daya saing yang kuat. Jadi daya saing utama adalah karakter pelaku usahanya. Esensi daya saing kedua adalah produknya. Itu yang oleh Pak Jokowi dirimuskan dalam kata-kata "meningkatkan produktivitas rakyat". Mungkin maksudnya, agar produk dapat memiliki daya saing di pasar, perlu peningkatan produktivitas. Atau sebaliknya, kalau produktivitas meningkat, maka akan memiliki daya saing di pasar.

Produk berdaya saing

Menjadikan pasar sebagai titik tolak usaha ekonominya karena pasar merupakan tempat para konsumen atau rakyat mencari kebutuhan produk-produknya. Butuh beras, sayur, buah, pupuk, alat rumah tangga, baju, HP, TV hingga butuh mobil bahkan rumah, semua ada di pasar. Dari pasar dapat diketahui "jenis dan mutu" barang yang dibutuhkan konsumen. Contoh soal Cabe saja. Di daerah Surabaya dan sekitar, konsumen lebih suka Cabe Merah Besar, sedangkan di Jakarta dan sekitarnya konsumen lebih banyak suka Cabe Merah Kriting (CMK) dan Cabe Rawit Merah (CRM). Lebih dalam lagi, konsumen Jakarta lebih suka Cabe Merah Kriting dari jenis PM999, sedang CMK jenis Lado tidak disuka, sehingga bila dipasok CMK Lado, walau harga jual dimurahkan, sangat sulit laku. CRM, konsumen lebih suka jenis Prentul - Blitar, daripada CRM jenis Gajah dari Temanggung. Jagung manis yang disukai konsumen Jakarta adalah jenis Bonanza, kalau dipasok jenis lain maka susah laku, bahkan bisa menjadi sampah. Sampah Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang setiap hari ada 80 - 100 ton itu kebanyakan terdiri dari sayur dan buah yang jenisnya tidak disukai konsumen. Penyebabnya, para petani menanam tanpa lebih dulu mengetahui jenis yang disukai pasar. Petani Thailand, Malaysia, Vietnam bahkan lebih tahu jenis sayur buah yang disukai konsumen Jakarta, sehingga produknya laris di pasar. Itu hal jenis dan mutu produk. 

Dari pasar kita dapat juga dapat diketahui "daya beli" dari konsumen. Ada contoh yang mudah dipahami. Di pasar induk Paskomnas (Pasar Komoditi Nasional), buah Durian Monthong yang paling laris dibeli konsumen adalah yang beratnya kurang dari 3 kg - harga Rp 30.000,-/ kg, sehari bisa habis 1.500 buah. Buah Durian yang beratnya  4 - 5 kg sehari hanya laku sekitar 200 buah. Sementara yang beratnya lebih dari 6 kg paling hanya laku 20 buah/ hari karena harga per buah 6 x Rp 30.000,- = Rp 180.000,-/ buah.  Bahkan pernah dibawa Durian Monthong yang beratnya 9 kg hingga tiga hari tidak ada yang beli, sebab konsumen harus mengeluarkan uang Rp 270.000,- untuk membelinya. Di sini dapat disimpulkan bahwa daya beli konsumen terbesar adalah pada buah durian kurang dari 3 kg/ buah. Mereka itu sering disebut sebagai masyarakat kelas menengah ke bawah. Jadi kalau akan mengembangkan produk unggulan durian, maka arahkan agar produknya memiliki berat kurang dari 3 kg/ buah. Jadi mestinya yang menjadi "juara" dalam lomba buah Durian, yang jadi juaranya adalah yang beratnya kurang dari 3 kg ini karena paling unggul di pasar. Unggul = laris di pasar. Di Thailand, buah durian yang laris di pasar sebagai buah meja adalah yang beratnya kurang dari 5 kg, sehingga buah durian yang beratnya 6 kg lebih dipetik masak 80% dan dibuat kripik durian. Makanya, buah durian yang dieksport ke Indonesia ukurannya hampir seragam menyesuaikan daya beli rakyat konsumen kita. Ehm, tapi dalam lomba-lomba buah durian, biasanya yang jadi juara adalah yang besaaar sendiri. Para jurinya mungkin kurang paham dengan bisnis yang berorientasi ke pasar. 

Harga produk

Selain jenis, produk akan unggul kalau harganya menarik konsumen. Kalau melihat daya beli produk berada di kelas menengah ke bawah, pasti para konsumen akan lebih suka produk dengan harga yang lebih "murah". Tetapi produk yang murah itu harus masih tetap menguntungkan produsen. Untuk produk pangan, harga produk yang baik adalah, petani tetap untung wajar dan konsumennya tidak merasa berat membeli. Salah satu masalah dalam manajemen bisnis adalah soal "penentuan harga" atau pricing. Pricing bisa salah disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karena penjual tidak tahu harga pokok produknya, tidak tahu daya beli konsumen, tidak paham pesaing, atau ikut arus yang sedang terjadi. Artinya belum bisa berbisnis. 

Ada contoh menarik masalah penentuan harga ini. Saya baru saja menjadi nara sumber di rapat koordinasi nasional Kementerian desa di Mercure Hotel - Jakarta. Pesertanya dari berbagai kabupaten terpilih di Indonesia, salah satunya dari Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Sebelum acara dimulai, secara kebetulan saya ngopi di ruang khusus bertemu utusan dari Kabupaten Musi Rawas itu, sebut saja namanya Pak Budi. Pak Budi cerita dengan saya bahwa dia dkk sedang kembangkan beras organik. 

Budi : Dulu saat pakai "cara kimia", dengan biaya Rp 12-jutaan, produksi padinya hanya sekitar 5 ton/ ha GKP atau sekitar 2 ton beras. Tetapi dengan "cara organik", biaya produksi turun hanya Rp 9-jutaan/ ha, tetapi produksinya bisa mencapai 8 ton GKP atau 4 ton beras. Luas tanaman padi organiknya ada 40 ha, sehingga total produksinya sekitar 160 ton beras. 

Saya : Wah banyak ya Pak Budi, berapa Pak Budi jual beras organik itu..?. 

Budi : Rp 20.000,-/ kg, Pak. 

Saya : Hmmm.. lalu berapa besar berasmu itu laku dalam sehari atau seminggu..?. 

Budi : Nah itu Pak, ini beras kami di kelompok masih banyak dan kalau bisa saya mau jual ke Jakarta. Paling sehari laku 20 kg 

Saya : Hmmm.. Jakarta ya.. mungkin bisa, tetapi di sini saingannya banyak dan perlu hati-hati memilih pembeli besar atau grosirnya. Saya mau tanya, mengapa Pak Budi menentukan harga beras organikmu Rp 20.000,-/ kg, berapa sih BEP-nya..?. 

Budi : Ya umumnya saja Pak Soekam, kan produk-produk  organik itu biasanya lebih mahal dari yang produk  biasa...?. BEP apa itu Pak..?

Saya : Pak Budi itu sudah pandai berproduksi, tetapi perlu banyak belajar untuk berbisnis. Tidak semua produk organik itu harus lebih mahal dari produk biasa. Penentuan harga jual produk bukan “digebyah uyah" (pukul rata) gitu, tapi harus pakai hitungan bisnis. Kalau sayur organik yang dibudidaya secara hydrophonik di dalam green-house, pantas mahal karena BEP-nya tinggi. Sementara kalau beras kan beda, Bapak tadi bilang biayanya malah turun dan produksinya naik. Sekarang saya mau beritahu, BEP itu singkatan dari break event point atau bahasa mudahnya “harga pokok produksi". Tadi Pak Budi bilang, dengan cara organik, biayanya hanya Rp 9-jutaan/ ha, dengan produksi beras 4 ton. Itu artinya BEP atau harga pokok produksi-nya Rp 9-juta dibagi 4.000 kg = Rp 2.250,-/ kg. Ditambah biaya kemasan Rp 600,- menjadi Rp 2.850,-/ kg. Kalau dijual Rp 20.000,-/ kg itu berarti untungnya sangat banyak dong. Tapi dengan harga itu Pak Budi susah menjual cepat kan...? Salah satu penyebabnya mungkin karena daya beli beras di daerah Musi Rawas paling banyak tidak di angka Rp 20.000,-/ kg.. tetapi di beras medium Rp 9.000,- atau beras premium Rp 11.000,-/ kg..? Mana yang paling banyak kira-kira...?

Budi : Hmmm.. yang paling banyak, atau 50% lebih ya yang beli beras harga Rp 9.000-an/ kg Pak. Lalu yang 30-an% beli beras premium. Trus baiknya bagimana Pak.... Agar segera laku cepat...?.

Saya : Saran saya, ubahlah harga jual beras organikmu menjadi sedikit di atas beras premium, misal Rp 12.500,-/ kg saja. Pak Budi dkk kan sudah untung banyak to...? Dengan begitu, harga segitu itu akan menarik pembeli menengah yang biasanya beli beras premium beralih beli beras organik Pak Budi. Misal yang separo saja beralih, beras Bapak akan cepat habis. 

Budi : Kok masuk akal Pak... Terima kasih Pak Soekam...  

Kalau Pak Jokowi membaca dialog saya dengan Pak Budi dari Musi Rawas itu mungkin senyum-senyum, semoga tidak senyum kecut. Masyarakat kita sekelas “orang kabupaten" saja masih harus banyak belajar tentang bagaimana harusnya membisniskan dan memahami daya saing komoditi pokok pangan. Padahal, pemerintah pusat sudah banyak memfasilitasi kabupaten dengan anggaran yang besar, termasuk anggaran desa yang tahun lalu besarnya Rp 60 trilyun. Kabarnya tahun ini akan ditingkatkan menjadi Rp 120 trilyun. 

Dengan slogan membangun dari pinggiran, termasuk mulai dari desa, menjadi andalannya. Tetapi kalau pelaksanaannya tidak tepat, anggaran yang banyak itu tidak akan mampu meningkatkan daya saing produk kita di arena bisnis internasional. Akibatnya kita malah "digantung" atau tergantung oleh produk asing, bahkan termasuk kalah menghadapi tenaga kerja asing.

Melihat posisi kelembagaannya yang sudah lama berbasis otonomi daerah, pejabat daerah menjadi penentu dari pola pengembangan produk unggulan yang berdaya saing internasional itu. Jadi tidak harus Pak Jokowi selaku presiden yang harus turun ke daerah kan...?


*Direktur Paskomnas Indonesia
*Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Hortikultura Kadin Indonesia.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar