Berkawan Baik Dengan Penderita HIV/AIDS

Dilihat 102 kali
Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2019

Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember untuk meningkatkan kesadaran global tentang perjuangan melawan HIV (Human Imunodeficiency Virus). Permasalahan HIV/AIDS (Acquired Imuno Deficiency Syndrom) bukan hanya isu Nasional, tetapi internasional.  Sebanyak 770.000 orang meninggal karena HIV di dunia pada 2018. Di tahun yang sama, total kematian akibat HIV mencapai 32 juta orang. Data dari unaids.org, Indonesia masuk ke dalam daftar 20 besar negara yang memiliki orang dengan HIV positif. Data estimasi tersebut sekitar 600.000 orang yang HIV positif di Indonesia.


Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Juni 2019, HIV/AIDS telah dilaporkan oleh 463 (90,07%) kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Terdapat penambahan dua kabupaten/kota yang melapor dibandingkan triwulan I tahun 2019. Orang dengan HIV/AIDS sering disebut dengan ODHA.


Stigma dan Diskriminasi


Salah satu hambatan dalam penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS adalah kentalnya stigma dan diskriminasi di masyarakat. Stigma terhadap ODHA adalah suatu sifat yang menghubungkan seseorang yang terinfeksi HIV dengan nilai-nilai negatif yang diberikan oleh masyarakat. Bagi sebagian orang, menjadi ODHA identik dengan orang yang berdosa, berbuat "nakal" atau amoral.  Perlakuan terhadap ODHA sering kali digambarkan dalam sikap sinis, menjauhi dan perasaan ketakutan yang berlebihan pada ODHA.


Tanpa disadari, hal ini berdampak besar pada program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS termasuk kualitas hidup ODHA. Populasi berisiko akan merasa takut untuk melakukan tes HIV karena apabila terungkap hasilnya reaktif akan menyebabkan mereka dikucilkan. ODHA merasa takut mengungkapkan status HIV dan memutuskan menunda bahkan enggan untuk berobat apabila menderita sakit, dan akan berdampak pula pada semakin menurunnya tingkat kesehatan mereka serta penularan HIV tidak dapat dikontrol. Dampak stigma dan diskriminasi pada perempuan ODHA yang hamil akan lebih besar ketika mereka tidak mau berobat untuk mencegah penularan ke bayinya.


Rangkul ODHA menuju hidup bahagia


'Communities Make the Difference'. Tema ini dipilih pada peringatan Hari AIDS Sedunia karena dirasakan komunitas memberikan kontribusi yang sangat besar bagi respon AIDS. Saling menguatkan, saling support untuk menikmati hidup dan tidak terbebani dengan status ODHA. Tema nasional yaitu 'Bersama Masyarakat Meraih Sukses!'. Upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030, artinya tidak ada lagi ada penularan infeksi baru HIV, kematian akibat AIDS, dan stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).


Tidak seorangpun yang menginginkan dirinya terserang penyakit, apalagi terkena HIV/AIDS. ODHA membutuhkan ARV (Anti retroviral) sebagai terapi untuk menekan HIV hingga tak terdeteksi, meningkatkan kualitas dan kelangsungan hidup, meningkatkan kesehatan, mengurangi risiko resistensi obat serta penularan HIV. Terkadang memang berat harus rutin meminum obat setiap hari seumur hidup, tetapi dengan cara inilah ODHA dapat bertahan.


Membangun sebuah relationship dengan ODHA mungkin bagi sebagian orang masih ada kekhawatiran atau rasa takut. Dengan perkembangan dunia kesehatan saat ini, orang yang memiliki HIV dapat hidup normal seperti masyarakat kebanyakan, bahkan memiliki kulitas hidup yang lebih baik. Selain ARV, yang tak kalah penting dibutuhkan oleh ODHA adalah dukungan dari keluarga, teman dan lingkungan sekitar.


Beberapa dukungan diantaranya dukungan sosial. Pada dasarnya, ODHA tidak ingin dibedakan, mereka ingin diterima apapun kondisinya. Caranya dengan menganggap ODHA seperti masyarakat lain yang tidak terinfeksi HIV. Makan bersama, bekerja, berorganisasi, saling curhat, jalan-jalan, olahraga dan aktivitas lainnya, tidak ada pengecualian apapun. Dukungan ini untuk menjaga emosi tetap stabil sehingga mencegah ODHA menularkan virus HIV kepada orang lain.


Mendorong ODHA untuk mendapatkan pengobatan yang layak dan konsisten juga merupakan bentuk dukungan. Tercatat 9.189 ODHA telah mendapatkan layanan pemerintah, dukungan dan pengobatan. ODHA banyak mengalami permasalahan secara psikis, diantaranya adalah kecemasan, kecenderungan untuk melakukan bunuh diri, neurocognitive disorder (gangguan sindrom otak organik yang mengganggu fungsi mental meliputi perubahan perilaku, masalah memori, kesulitan melakukan kegiatan), postraumatic stress disorder (rasa panik karena trauma pengalaman masa lalu), depresi, serta masalah-masalah kesehatan yang dialami ODHA. Depresi lebih dari rasa sedih yang dapat membuat ODHA tidak disiplin dalam menjalani pengobatannya, melewatkan terapi atau dosis obat.


Pengaruh dukungan sosial terhadap optimisme ODHA sangat signifikan. Selalu optimis dan berpikir positif membuat ODHA menjadi lebih tenang dalam menjalani kehidupan. Menjadi ODHA bukan akhir dari segalanya, mari bersama bangkit untuk kehidupan yang lebih baik. Sudah saatnya negara kita tercinta ini bebas dari diskriminasi dan stigma terhadap orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Marilah kita menjadi warga negara yang baik dengan membantu mewujudkan negara tanpa diskriminasi dan stigma salah satunya dengan berkawan baik dengan ODHA.


 


Fajar Nur Farida


Administrator Kesehatan


RSUD Muntilan Kabupaten Magelang


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar