Kesenian Soreng, Tarian Dari Gunung Masuk Ke Istana

Dilihat 239 kali
Aksi tari Soreng Desa Bandungrejo Ngablak Kabupaten Magelang
BERITAMAGELANG.ID - Kesenian tradisional Soreng lahir dari kabut gunung. Tarian memuja keperkasaan alam itu tersebar dari lereng Merbabu hingga Andong di Kabupaten Magelang. 

Di tanah gunung yang subur itu, bermukim masyarakat petani. Secara turun temurun mereka setia melestarikan sebuah tradisi luhur yakni tari keprajuritan dusun bernama Soreng. 

Tidak ada simbol adat saat memasuki Desa Bandungrejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang Jawa Tengah, semua terlihat biasa. Berbagai pohon perindang berjajar rapi di tepi jalan di antara sapa ramah warga yang menenteramkan.

Suatu siang, sebagian warga Bandungrejo terlihat bergegas untuk pulang dari ladang. Merapikan rumput untuk ternak di kandang, menyeka keringat dan sesekali menyapa ternak kesayangan. Sebagian lainnya terlihat sudah bersiap dengan perlengkapan pentas. 

"Setelah salat Ashar kita harus pentas di desa tetangga sehingga harus siap-siap," kata Slamet yang saat ini menjadi kendali kelompok kesenian Soreng warga Setuju Desa Bandungrejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang.

Menurut Slamet, tanggapan (pentas) kali ini berlokasi di Desa Tejosari Berposan atau lima kilometer dari dari Desa Bandungrejo. Semua anggota warga Setuju terlibat, perangkat tabuhan berupa gamelan, bende, kendang dan truntung sudah lebih dahulu diangkut menuju lokasi. Setiap personil sudah paham tugas yang diemban setiap menjelang pentas. 

Karena dedikasi itu pada perayaan HUT Kemerdekaan RI tahun 2019 ratusan penari Soreng Ngablak Kabupaten tampil memukau di Istana Negara.

Persiapan dan koordinasi diam itu ternyata sudah menjadi tradisi warga Setuju. Maklum saja, berkesenian adalah sebagian nafas yang mengalir secara turun temurun bagi warga dusun yang berada di lembar lereng Gunung Andong dan Merbabu itu.

"Ini pentas guyub dengan semua personil ikut karena di desa tetangga yang tak jauh," tutur Slamet Santoso seraya merapikan baju sorjan yang dikenakan.

Menjelang sore, di atas panggung berlatar belakang Gunung Merbabu Desa Tejosari, pentas sudah dimulai, iringan musik tabuh bersatu dengan gerak para penari soreng yang dinamis. Kekuatan tari Soreng ada pada gerak dan hentakan kaki yang penuh energi.

Gerak tari Soreng yang khas itu menurut Slamet merupakan visualisasi kekuatan para petani saat di ladang. Dari kata 'Suro Ing' yang berarti berani dimana saja, tari Soreng melambangkan dimensi keprajuritan Jipang Panulang Haryo Penangsang. Dalam geraknya para penari penuh ekspresi dan energi sebagai petarung masyarakat gunung dalam menghadapi tantangan alam. Gerak kaki dan tangan melambangkan kegigihan mereka mengolah pertanian aneka sayuran di kawasan lereng-lereng gunung.

Dalam perjalanannya, sekitar tahun 60-an tari yang semula bernama Prajuritan ini oleh warga Taryono kemudian dilengkapi dengan peran penari tokoh cerita dari Kadipaten Jipang Panulan yang dipimpin seorang Hadipati bernama Haryopenangsang. Dalam ceritanya terdapat prajurit seperti Soreng Rono, Soreng Pati, Soreng Rungkut, Patih Ronggo Metahun dan pekatik. Sehingga kesenian ini kemudian dinamakan Soreng. 

Dengan penambahan peran penari tokoh, tata rias busana maupun iringan musiknya kesenian ini menjadi tontonan lebih menarik dan atraktif sehingga sangat digemari oleh masyarakat. 

Diceritakan Slamet, sekitar tahun 1974 tari Soreng Bandungrejo mendapat pengesahan dari Seksi Kebudayaan Depdikbud Kabupaten Magelang. Selanjutnya tahun 80 hingga sekarang terus ditata hingga lebih baik gerak alur ceritanya.

"Inovasi tari besar pada generasi saya sekitar tahun 1990. Tapi gerak tari masih sama," cerita Slamet.

Sementara itu, Camat Ngablak Imam Wisnu Kusuma mengatakan kegiatan bertani telah mempengaruhi tradisi dan budaya warga Ngablak. Wilayah Kecamatan Ngblak memiliki 16 desa yang terkenal sebagai penghasil sayuran. 

Kesenian Soreng sudah mendunia hingga ke istana negara itu memiliki gerakan dinamis nan komplit seperti orang bertani di ladang. 

"Karena di sini dari dulu masyarakat di bidang pertanian, saya kira gerakan keseniannya itu terkait juga dari kebiasaan masyarakat. Karena kebudayaan itu kan sumbernya dari kebiasaan," kata Imam.

Ditambahkan Imam, selain tari Soreng di wilayah berhawa sejuk ini juga tumbuh subur berbagai kesenian tradisional lainnya seperti jatilan, hingga topeng ireng. Selain itu juga terdapat aneka tradisi leluhur di masyarakat dan masih dilestarikan.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar