Kerap Dilanda Tanah Longsor, Warga Menoreh Ciptakan Alat Deteksi Dini

Dilihat 998 kali
Pembuatan alat sederhana deteksi dini bencana tanah longsor oleh warga Desa Ngargoretno Salaman, Magelang Jawa Tengah

BERITAMAGELANG.ID - Warga tertinggi perbukitan Menoreh Kabupaten Magelang Jawa Tengah, berjuang melawan ancaman bencana tanah longsor. Dengan sekuat tenaga mereka mendeteksi setiap pergerakan tanah dan fenomena alam lain yang dimungkinkan bisa menjadi pertanda sebelum bencana datang. 


Secara geografis, Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang Jawa Tengah berada di ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Desa yang dihuni Sekitar 1.500 kepala keluarga atau 3.500 jiwa lebih merupakan salah satu pemukiman tertinggi di wilayah perbukitan Menoreh. Secara turun-temurun warga mendirikan rumah di tanah datar yang berada pada sisi tebing maupun jurang bukit Menoreh. Bukan tanpa resiko mereka hidup di perbukitan yang keras dari susunan batu marmer tersebut, selain rawan kekeringan di musim kemarau, saat hujan turun dengan durasi panjang, maka warga berada dalam ancaman bencana tanah longsor.


Setiap bidang tanah yang warga miliki dimanfaatkan secara maksimal untuk bertani ladang palawija maupun beternak hewan kambing peranakan etawa atau kambing PE. Bagi warga Desa Ngargoretno, bencana tanah longsor tidak serta merta langsung terjadi, namun selalu diawali retakan tanah yang terjadi pada musim kemarau dan kian parah pada musim penghujan.   


Bagaikan bom waktu, setiap menit, tanah di wilayah desa ini terus bergerak turun ke lembah-lembah yang lebih rendah. Pergerakan tanah itu menjadi salah satu pertanda bahaya yang diartikan warga di Ngargoretno untuk waspada dan bersiap-siap menyelamatkan diri dan keluarga ke tempat yang lebih aman. 


Di awal tahun 2018, warga Desa Ngargoretno harus kembali bersabar dengan ujian bencana berupa tanah longsor yang mengakibatkan sejumlah rumah rusak dan puluhan rumah lainnya dalam kondisi terancam longsor susulan, setelah dinding dan lantai rumah mereka terlihat retak-retak. Longsor juga telah membuat akses jalan penghubung ke dusun lain yang juga merupakan alternatif jalur menuju candi Borobudur terputus. 


Bencana tanah longsor yang seakan terus menerpa setiap musim penghujan, tidak membuat warga Desa Ngargoretno putus asa dan berkeluh kesah. Namun kondisi itu seakan menjadi sebuah energi positif untuk bertahan. Mengandalkan naluri alam, mereka melakukan sejumlah upaya antisipasi dini dengan mengamati setiap tanda-tanda akan datangnya bencana itu. Salah satunya dengan pembuatan alat pendeteksi dini bencana longsor atau biasa disebut early warning system (EWS) tradisional berbahan bambu dan kayu. 


Berbeda dengan alat EWS modern pada umumnya, alat deteksi tradisional khas warga Ngargoretno ini sangat sederhana yang mengandalkan naluri dengan bahan yang mudah diperoleh di sekitar, seperti bilah bambu yang ditancapkan pada titik retakan tanah sebagai penanda awal jika ada pergeseran, hingga rangkaian bambu dan kayu yang dirangkai segitiga yang dikaitkan dengan lonceng atau bel yang siaga berbunyi jika tanah mulai longsor. 


"Ide pembuatan dan pemasangan alat pendeteksi longsor tradisional itu berawal dari kesulitan warga dalam mendeteksi dan mengamati setiap gejala awal sebelum terjadinya tanah longsor," ungkap Soim, salah satu warga Ngargoretno.


Lebih lanjut Soim mengungkapkan, selama ini alat tradisional sederhana itu sudah terbukti dapat mengurangi keresahan warga dan jatuhnya korban jiwa dari bencana tanah longsor. Tidak butuh perawatan khusus agar alat itu berfungsi. Secara mandiri setiap rumah warga yang dianggap terancam longsor dipasangi rangkaian alat tersebut. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat EWS tradisional itu juga tak besar, hanya dibutuhkan tiga bilah bambu sepanjang dua meter, tali nilon plastik dan kawat.


Soim mengungkapkan, dalam merangkai EWS tradisional itu juga sangat mudah. "Yakni dua bilah bambu dijadikan tiang, pertama kali dijadikan satu dengan cara diikat menggunakan kawat, kemudian masing-masing ujung bawah bambu ditanam dalam tanah dengan kedalaman sekitar sepuluh sentimeter yang kemudian terlihat seperti rangkaian segitiga", jelasnya.


Proses selanjutnya, satu bambu yang tersisa dijadikan alat pengukur kemiringan dan pergerakan tanah. Bambu itu dipasang pada lokasi tanah yang dimungkinkan bisa longsor sewaktu-waktu karena memiliki kemiringan tebing yang curam. Setelah tepasang, pada ujung atas bambu dipasang seutas tali yang dikaitkan ke segitiga utama.


EWS tradisional itu dipasang pada jangkauan yang mudah terlihat dan terpantau setiap harinya.


"Jika terjadi pergerakan tanah sekecil apapun, tali yang terbentang akan terlihat miring sehingga warga akan faham jika bahaya longsor mengancam," ungkap Soim.


Selain mengandalkan EWS tradisional, warga Menoreh juga memiliki kearifan lokal tentang bagaimana melihat gejala longsor yang mereka hafal, seperti munculnya retakan pada tanah dan aliran sumber air yang tiba-tiba menjadi keruh pada dinding tebing hingga mengamati perubahan pada kondisi pepohonan dari lurus menjadi miring.


Upaya mandiri dalam mengantisipasi datangnya bencana itu, menjadikan warga selalu wasapada dan hingga kini keselamatan dan kenyamanan warga tetap terjaga. Bagi warga Ngargoretno, di balik setiap bencana ada hikmah yang dapat dipetik, manusia hanya berusaha, Tuhan lah yang menentukan.


 



Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar