Kampung Rempah Borobudur Kembangkan Biofarmaka di Pekarangan Warga

Dilihat 986 kali
Tanam serempak tanaman Bifarmaka di AEW Kampung Rempah Tegalarum Borobudur Kabupaten Magelang

BERITAMAGELANG.ID - Di tengah pandemi Covid 19, budidaya tanaman obat menjadi potensi cukup menjanjikan. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Magelang berupaya meningkatkan produksi pertanian biofarmaka tersebut.

 

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang saat ini mengupayakan perluasan lahan tanam biofarmaka memanfaatkan pekarangan warga Desa Tegalarum, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Guna mendorong produktivitas itu tanaman rimpang seperti jahe, kunyit, kapulaga dan sejenisnya dapat ditanam di antara pohon tegakan di pekarangan warga.


Berdasarkan survei BPS Kabupaten Magelang tahun 2020, luas panen hasil pertanian biofarmaka, turun 1.352.550 m2.  Dari 5.613.788 m2 pada 2019 menjadi 4.261.238 di 2020.


Jenis biorfarmaka yang paling banyak ditanam adalah jahe dengan luas hasil panen 1.395.225 m2. Jumlah luas panen jahe 2020 juga turun 50.125 m2 dibandingkan 2019.


"Potensi pengembangan tanaman biofarmaka atau herbal tidak memerlukan teknologi tinggi. Sehingga bisa dikembangkan di areal di bawah (tanaman) tegakan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan saat peresmian Agro Edu Wisata Kampung Rempah Borobudur, Selasa (21/12).

 

Menurut Romza, warga Desa Tegalarum yang memiliki lahan kosong diarahkan untuk menanam berbagai jenis tanaman biofarmaka. Cara ini lebih ekonomis karena warga tidak perlu menyediakan lahan khusus. 

 

Pengembangan tanaman rempah, spesifik untuk tanaman cabe, jamu, kapulaga, cengkeh, yang nantinya dapat dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat secara optimal pekarangan.


Tidak hanya aspek produksi, imbuhnya, Pemkab Magelang juga menyiapkan pasar tani di Desa Tegalarum. Pasar ini nantinya menjadi sentra perdagangan biofarmaka di Magelang.

 

Dijelaskan Romza, wilayah yang menjadi sentra penanaman biofarmaka saat ini antara lain berada di Kecamatan Borobudur, Kajoran, Salaman, dan Grabag.

 

Sementara itu, berdasarkan data Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, potensi ekspor pertanian jenis rimpang seperti jahe, lengkuas, dan kunyit masih sangat besar.  


Pada 2018, ekspor tanaman obat seperti jahe mencapai 2 ribu ton per tahun. Sedangkan ekspor kapulaga mencapai 6 ribu ton per tahun.

 

Bisnis tanaman bioformaka diproyeksikan semakin maju, seiring berkembangnya industri herbal dan gaya hidup masyarakat kembali ke alam (back to nature).


Bahan biofarmaka biasanya diolah menjadi bahan dasar obat herbal, produk kosmetik, dan salon kecantikan.


"Pasar tani ini bantuan Gubernur Jawa Tengah. Nanti dijadikan pasar pusat produk pertanian secara umum, khususnya untuk tanaman rempah dan herbal," ujar Romza.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar