Jelajah Pusaka Pelaku Seni Tradisional Hidupkan Wisata Sekitar Candi Borobudur

Dilihat 121 kali
Prosesi Jelajah Pusaka Ruwat Rawat Borobudur 2020 di Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

BERITAMAGELANG.ID - Puluhan pelaku seni tradisional dari berbagai daerah antusias mengikuti kegiatan bertajuk Jelajah Pusaka di wilayah Kabupaten Magelang.


Sebanyak 86 peserta dengan antusias mengikuti kegiatan yang menjadi rangkaian Gelar Budaya Ruwat Rawat Borobudur Tahun 2020 itu.


Dalam kegiatan itu mereka melakukan observasi di desa-desa wisata sekitar Candi Borobudur, salah satunya objek wisata alam Punthuk Setumbu. Di lokasi yang menawarkan kecantikan matahari terbit ini para peserta melihat langsung tata ruang, dan pola pengelolaan wisata berbasis kearifan lokal.


Punthuk Setumbu dibuka untuk umum sejak 2009, namun bisa dikenal dan mulai banyak dikunjungi wisatawan sekitar 2013.


"Harapannya para peserta mendapat wawasan baru untuk diterapkan di desa masing masing," kata Koordinator Sekolah Lapangan Brayat Panangkaran Borobudur Kabupaten Magelang, Eri Kusuma Wardhani, Jumat (14/2/2020).


Selain di lapangan, kegiatan Jelajah Pusaka kawasan Borobudur juga menggelar silaturahmi dengan Balai Konservasi Borobudur (BKB). Dalam kesempatan itu, Kepala BKB Tri Hartono menyampaikan apresiasi kepada Komunitas Brayat Panangkaran yang konsisten menggelar Ruwat Rawat Borobudur hingga 17 tahun.


Menurutnya, peran masyarakat dalam upaya pelestarian cagar budaya sangat penting, seperti yang dilakukan Brayat Panangkaran Borobudur selama ini.


"Telah bertahun-tahun ini sangat perlu disebarluaskan agar masyarakat yang lain dapat mengetahui," ujar Tri.


Sementara itu Budayawan penggagas Ruwat Rawat Borobudur Sucoro mengungkapkan Candi Borobudur adalah candi Budha terbesar di dunia. Keberadaan Candi Borobudur kini bukan hanya dikenal sebagai peninggalan Dinasti Wangsa Syailendra, namun juga sebagai warisan budaya dunia yang ramai dikunjungi jutaan wisatawan dari dalam maupun luar negeri.


Namun perkembangan pariwisata masih tersentral di zona 1 dan 2. Hanya sebagian wisatawan yang mendatangi wisata penyangga sekitar Borobudur.


"Keramaian yang sentrallistik itu dirasa sangat mengamcam pelestarian warisan budaya Candi Borobudur," ujarnya.


Hajatan rakyat ke 17 Tahun Ruwat Rawat Borobudur diselenggarakan mulai 9 Februari - 21 April 2020 di Kawasan Borobudur.


Pada 14-16 Februari 2020 mendatang digelar ritual Kidung Umbul Donga, Sedekah Makam Mbah Gabah dan Pembukaan Festival Kesenian Rakyat Pasedhuluran di Dusun Gabahan Desa Banaran Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang.


Sebelumnya, pada 11-12 Februari, para Relawan RRB mengikuti kegiatan Rasulan Rawat Borobudur di Desa Pangarengan 2 Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang.


Tradisi Rasulan Brayat Pangarengan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih pada Tuhan yang telah memberikan rejeki keselamatan, kesejahteraan melalui alam. Hasil bumi yang melimpah, berupa sayuran itu sebagian dibagikan ke masyarakat pada pembukaan 17 Tahun Ruwat Rawat Borobudur 9 Februari kemarin.


Semua kegiatan itu bertujuan membangun kembali berbagai acara seni tradisi dan adat desa di dusun-dusun yang kini mulai punah. Harapannya, selain menjadi penyangga kelestarian warisan budaya, bangkitnya tradisi ini juga dapat menyebarkan keramaian pengunjung dari Candi Borobudur ke desa lain.


Kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini juga menjadi simbol gotong royong masyarakat, seperti dalam sajian sendratari Kidung Karma Wibangga.


"Dengan kemampuan seadanya para pecinta seni budaya tradisi ini menjadi bagain dari upaya pelestarian Candi Borobudur dari sisi nilai budaya," terangnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar