Industri Sapu Tetap Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Dilihat 586 kali
Home industry sapu di Dusun Keprekan Desa Bojong Kecamatan Mungkid Magelang, tetap bertahan ditengah pandemi Covid 19.


BERITAMAGELANG.ID - Di tengah pandemi Covid-19, banyak UMKM industri rumahan tetap bertahan. Salah satunya yang memproduksi sapu di Dusun Keprekan Desa Bojong Kecamatan Mungkid. Di wilayah tersebut terdapat 135 kepala keluarga, 92 persen adalah perajin sapu. 


"Sudah sejak dulu, untuk jelasnya tidak tahu, karena keterampilan perajin ini diwariskan turun-temurun,” ucap Ketua RT 3, Dusun Keprekan Desa Bojong Mungkid, Arif Hermawan, Senin (12/10/2020).


Home industry sapu dikerjakan masing-masing keluarga, termasuk keluarga Arif sendiri. 


“Dan sapu telah menjadi komoditas perekonomian warga," lanjutnya.


Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, sedikit banyak usaha rumahan industri sapu tersebut juga terkena dampaknya. Namun hal tersebut tidak serta merta membuat industri rumahan tersebut terpuruk.


Seiring waktu, permintaan sapu masih terus berjalan meskipun ada penurunan. 


“Biasanya mau lebaran dan masuk sekolah, permintaan sapu naik karena sapu digunakan untuk oleh-oleh. Karena kemarin mudik sepi ditambah sekolah tidak masuk, permintaan menjadi menurun," terang Arif.


Rata-rata satu perajin mampu memproduksi antara 50 hingga 100 buah. Harga rata-rata mulai dari Rp 10 ribu, hingga Rp 32 ribu karena masing-masing rumah kualitasnya berbeda, ketebalannya berbeda.


Produk sapu dari Dusun Keprekan Desa Bojong Kecamatan Mungkid, selain mencukupi permintaan lokal dan luar kota, juga diekspor ke luar negeri, diantaranya India, Jerman, Amerika, Thailand, Dubai. 


"Uniknya setiap rumah atau setiap perajin mempunyai pangsa pasar atau link (langganan) sendiri-sendiri. Dan produk sapunya menyesuaikan masing-masing pelanggan, terkait permintaan kualitas serta harga," ungkap Arif.


Adapun bahan baku sapu terbuat dari Rayung, yang dibeli dari Banjarnegoro. Sedangkan gagang sapu dari bambu Wonosobo, paku tali dari pabrik.


Bahan sapu ini dari rayung, bukan dari ijuk. Warna rayung cenderung kuning cerah, sedangkan ijuk berwarna hitam. Sayangnya rayung sebagai bahan baku masih didatangkan dari luar daerah.


Adapula bahan rayung dari lereng Merapi Merbabu, tekstur rayung lebih kaku, warna lebih hijau. 


“Biasanya rayung tersebut dibikin sapu dengan permintaan dari Jawa Barat dan Jakarta, yang lebih suka sapu dengan rayung yang kaku," ungkap Arif.


Salah satu perajin sapu di Dusun Keprekan Desa Bojong Kecamatan Mungkid, Dulah Amanat, menuturkan, dirinya setiap hari mampu memproduksi 50 buah sapu yang dikirim ke Klaten, Solo, Wonosari Gunung Kidul.


"Rata-rata seminggu produksi 500an sapu. Kalau untuk jenis yang lebih bagus kualitasnya saya per hari bisa bikin 25 buah sapu. Tapi kalau yang lebih murah bisa 50 buah sapu per hari," tutur Dulah.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar