Gadis Ini Sampaikan Pesan Physical Distancing Melalui Tarian

Dilihat 639 kali
Performa Nabila dan Sutanto Mendut untuk kampanye jaga jarak sebagai upaya pencegahan covid-19
BERITAMAGELANG.ID - Menjaga jarak di musim pandemi covid-19 ini, nampaknya masih belum dilakukan secara penuh kesadaran oleh sebagian masyarakat. Budaya ewuh pakewuh masih melekat, padahal dengan menjaga jarak, minimal bisa ikut mencegah penyebaran covid-19.

Kekhawatiran muncul saat lebaran segera tiba. Akankah masyarakat tetap mempertahankan tradisi saling silaturahmi, salaman, bahkan ada yang 'cipika cipiki' dan saling peluk. Bagaimana mereka menerapkan physical distancing? Padahal langkah ini direkomendasikan ahli kesehatan masyarakat untuk memperlambat penyebaran penyakit yang ditularkan dari orang ke orang ini.

Nabila Rifany (22), gadis manis dari Komunitas Lima Gunung tergerak hatinya untuk ikut menyadarkan masyarakat agar selalu menjaga jarak. Ia melakukan kampanye tentang pentingnya physical distancing melalui keahlian yang dia miliki yaitu menari.

Perform ia tampilkan dalam pameran Ekterior Halal Bihalal Keluarga 2020 di studio Mendut Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang. Pameran ini merupakan karya anak muda Muh Arifin. Berbagai ornamen pesan bahaya covid-19 divisualisasi melalui tampah yang digantung, tampilan sejumlah pasien dan jenazah. 

Ada pula patung pasangan orang tua yang duduk secara berjarak. Di depannya ada patung sepasang anak sedang sungkem juga berjarak. Patung-patung bermasker, juga suguhan lebaran yang dimasukkan dalam toples.

Alunan gending secara tunggal dimainkan Agus Prasetyo, mengiringi setiap gerak tari oleh Nabila. Tidak ada orang lain kecuali sang pemilik studio Mendut, Sutanto dan dua anak muda yang bertugas mengambil gambar. Pameran ini memang disiarkan secara live di media sosial Instagram. Tak ada penonton di studio Mendut karena memang pesan dari pameran ini adalah jaga jarak dan tidak ada kerumunan.

"Ini yang sangat penting, menjaga jarak, tidak  berkerumun agar bisa mencegah penyebaran Covid-19," kata Nabila dengan terbata-bata.

Air mata tidak berhenti mengalir dari kedua sudut matanya yang indah. Karena saat menari, Nabila merasakan sakit pada kakinya yang patah akibat kecelakaan. Sakit itu sudah dirasakannya selama enam bulan.  Selama itu ia meratapi diri karena merasa tidak bisa menari lagi.
Namun pandemi Covid 19 membangkitkan kesadarannya agar ia bisa menyampaikan pesan kepada khalayak. Ia beranikan diri menari, meskipun setiap melakukan gerakan, kakinya serasa terkunci. Namun ia terus melakukan, sakit kaki tak lagi ia rasakan.  

"Saya bisa melakukan, saya harus bisa. Ini penampilan pertama saya setelah kecelakaan," kata mahasiswi jurusan tari UNY ini.

Dalam tariannya, Nabila juga membacakan sebuah puisi uang berisi pesan berlebaran di rumah saja. 

"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa  menjaga jarak saat kita meminta maaf di lebaran nanti, tidak mengurangi makna dari permohonan maaf itu. Tidak mengurangi makna Idul Fitri. Semua harus memaklumi dengan keadaan saat ini," pesannya.

Sutanto Mendut juga menyebutkan, negara Australia, Eropa bahkan Arabia tidak mengenal halal bihalal. Mereka tidak paham budaya Jawa yang mengutamakan kerukunan. Tidak terkecuali halal bi halal yang selalu sungkem antar tubuh. 

"Kita cinta orang tua, cinta leluhur, tapi di tahun 2020 ini, sungkem antar tubuh harus diganti dengan sungkem berjarak," tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya menerima tamu bukan di ruang yang terbatas, namun lebih kepada ruang bebas seperti teras dan semacamnya. 

"Dengan menerima tamu di ruang yang tidak terbatas, virus akan cepat lenyap, tidak berkutat pada satu ruangan itu," ujarnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar