Dua Tahun Tanam, Klengkeng New Kristal Mulai Berbuah

Dilihat 409 kali
Srini merawat tanaman klengkeng new kristalnya.
BERITAMAGELANG.ID - Hidup berdampingan dengan Gunung Merapi yang tdak bisa ditebak, bagi sebagian orang tentu menakutkan. Namun tidak bagi Srini, warga Dusun Gowok Ringin, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Meski tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi, tak menyurutkan nyali wanita setengah baya ini bercocok tanam. Bahkan hobinya itu, telah menginspirasi banyak orang terutama para kaum hawa untuk tidak bergantung pada kaum adam.

Bahkan melalui ketekunannya itu, Srini pernah sukses menjadi eksportir baby buncis ke Singapura dan Malaysia, pada 2010-2014 lalu. Namun, karena sesuatu hal, ia menghentikannya. Meski demikian, tak memadamkan semangat dan hobinya bercocok tanam. Ia pun banting stir menggeluti aneka tanaman organik. 

Ibu tiga orang anak itu, memang dikenal sebagai petani wanita yang gigih menggerakkan para petani, khususnya wanita sekitar lereng Merapi agar gemar bercocok tanam. Kini ia dan Sukamto Lexi Wibowo (64), suaminya sukses menanam tanaman klengkeng 'New kristal', yang meski baru ditanam dua tahun, sudah bisa berbuah.

Rumah Srini memang tidak begitu besar untuk warga sekitar. Hanya saja memiliki pekarangan sekitar 2.500 meter persegi mengelilingi rumahnya. Yang menarik, disekitar rumahnya penuh aneka jenis tanaman sayuran, seperti sawi, pokcoy, peterseli, tomat, cabai, rosemary, lettuce, buncis, hingga buah-buahan seperti jeruk, srikaya, bit dan klengkeng.

Belakangan Srini memang dikenal sebagai wanita yang handal dan gigih mengkampanyekan budaya bercocok tanam dan beternak organik. Dia tidak pelit ilmu sehingga para petani sekitar dan dari luar daerah kerap bertandang ke rumahnya untuk berkonsultasi. 

"Ya begini, setiap hari banyak yang datang ke rumah saya untuk belajar bersama tentang bercocok tanam dan ternak secara organik," katanya.

Dari latar belakang pendidikan, sejatinya Srini bukanlah sarjana pertanian. Ia merupakan alumnus jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tidar Magelang. Lulus kuliah, ia menekuni profesi yang bertolak belakang dengan aktivitas bercocok tanam. Dia pernah menjadi guru TK di Kecamatan Muntilan dan guru SMA di Kota Magelang. Ia juga pernah menekuni bisnis multilevel marketing (MLM).

Kemudian saat mulai pensiun, dia beraktivitas sebagai pendamping wisata Live In untuk anak-anak kos yang tinggal di desanya. Saat itu, tanpa sengaja dia bertemu dan berkenalan dengan seorang petugas Dinas Pertanian Propinsi Jawa Tengah. Dari perkenalannya itu, ia kenal dengan dunia pertanian.

Menjadi petani perempuan sukses bukan perkara mudah. Dia juga berpikir ilmu yang didapatkannya harus ditularkan kepada perempuan-perempuan sekitarnya yang saat itu menjadi petani konvensional. Dia rajin pergi ke berbagai arisan maupun pertemuan untuk sosialisasi hingga akhirnya membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Merapi Asri sampai sekarang.

Kini ia dan suaminya, sukses menembangkan tanaman klengkeng 'New Kristal'. Bahkan sejak 2017, ia berhasil membina sekitar 40 petani untuk mengembangkan tanaman klengkeng tersebut. Tidak hanya di Magelang, tapi sudah sampai wilayah Sleman dan Boyolali. 

"Total sudah ada sekitar 4.500 pohon di Magelang, Sleman dan Boyolali itu. Tanaman klengkeng yang saya kembangkan ini, memiliki ciri khas berbeda dari yang lain. Selain ada sertifikatnya, waktu berbuah cepat yakni hanya memerlukan waktu sekitar dua tahun sejak tanam. Selain itu, perawatannya juga mudah, daging buangnya juga tebal, biji kecil dan rasanya ada bunyi 'kresnya'," ungkapnya.

Di Sleman, kata Srini, saat ini sudah siap untuk dijadikan wisata agro. Tanaman klengkeng new kristal ini, sangat cocok untuk dikembangkan menjadi wisata agro, yakni petik buah klengkeng. 

"Tidak perlu khawatir, karena waktu berbuahnya bisa diatur, sehingga bisa setiap hari atau minggu dipanen. Untuk saat ini, setiap satu kg dihargai Rp 40 ribu dengan petik sendiri," pungkasnya. 

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar