Dolanan Anak Sebagai Sarana Membentuk Karakter Dan Mengenal Alam

Dilihat 565 kali
Siswa siswi SDN Karangrejo antusias membuat dolanan anak

BERITAMAGELANG.ID - Inilah upaya dari warga terutama pemuda Dusun Senderan 2 Desa Karangrejo Kecamatan Borobudur untuk melestarikan dolanan tradisional dusun setempat. Mereka menggelar pameran dolanan bocah yang di selenggarakan di Bukit Barede desa setempat.

"Kegiatannya sudah Rabu (15/6) lalu, dan sangat antusias diikuti puluhan siswa-siswi SDN Karangejo," kata ketua panitia, Andi Ansah saat dihubungi Kamis (16/6/20220).

Andi mengatakan, pameran dolanan bocah ini sangat antusias diikuti anak-anak. Beberapa dolanan bocah yang dipamerkan diantaranya kuda lumping, topeng, layang-layang dan semacamnya.

Andi menjelaskan, konsep yang diusung dari pemuda di Desa Karangrejo ini, merupakan binaan Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi untuk lebih mengenalkan alam kepada anak-anak dan dolanan tradisional. "Kembali ke alam dan mengenalkan bahwa permainan tradisional juga berasal dari alam," ujarnya.

Selain mengenalkan kepada anak-anak terkait dolanan tradisional, kegiatan ini sekaligus sebagai sarana untuk mendidik mereka. Sehingga tercipta karakter baru dari dolanan tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga dapat melestarikan permainan yang selama ini mulai luntur akibat pengaruh gawai.

Di sisi lain, gawai kini sudah menjadi hal yang lumrah bagi kebanyakan orang. Tidak hanya orang dewasa saja, tapi juga anak-anak. Seakan menjadi kebutuhan khusus dan tidak bisa dihilangkan.

Kendati demikian, Andi melanjutkan, dolanan tradisional seyogyanya tidak kalah dengan kecanggihan teknologi.

Selain menggelar pameran, Andi bersama kawan-kawannya juga mengenalkan beberapa karya, tembang, dan dolanan tradisional kepada anak-anak. Seperti tembang dolanan jaranan, cublak-cublak suweng, layangan, egrang batok, dan lain-lain.

Setiap dolanan, kata dia, juga memiliki makna tersendiri sehingga sedikit banyak dapat mengedukasi anak-anak. Misal egrang batok, dimana dari permainan tersebut, dapat diambil sebuah pelajaran bahwa manusia harus bisa berdiri tegak dan dapat menyelesaikan apapun masalah yang dihadapi.

Andi juga mengatakan, para guru yang mendampingi siswa-siswanya juga mengapresiasi kegiatan tersebut. Mereka ingin jika kegiatan semacam pengenalan dolanan tradisional tetap berjalan secara kontinyu. Bahkan, bisa dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

"Tentu kami berharap  dengan adanya pameran dolanan bocah ini, membuat anak-anak lebih mengenal kembali jati dirinya sendiri. Serta tidak meninggalkan tradisi dan budayanya sendiri," katanya.

Sementara itu, Koordinator Pemanfaatan Pemajuan Kebudayaan Jio Martono menambahkan, sudah saatnya kembali memperkenalkan dolanan tradisional kepada anak-anak yang selama ini terkikis oleh digitalisasi. Pasalnya, dengan permainan tradisional dapat membentuk karakter anak-anak untuk lebih sensitif dalam bersosialisasi.

Dia menilai, kegiatan ini efektif untuk mengenalkan aneka dolanan tradisional. Selain itu, juga menumbuhkan rasa gotong-royong dan membangun karakter sejak dini.

Menurutnya, anak-anak memang seharusnya mengerti soal lingkungan sekitar. Mengingat alat untuk membuat permainan tradisional juga berasal dari alam. Dengan demikian, anak-anak tahu fungsi dari alam itu sendiri.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar