Cuaca Tidak Ekstrem, BPBD Belum Droping Air Bersih

Dilihat 135 kali
Kepala BPBD kabupaten Magelang, Edi Susanto

    BERITAMAGELANG.ID - Tahun 2020 ini, BPBD Kabupaten Magelang belum melakukan droping air bersih, ke desa-desa yang biasanya mengalami krisis air bersih atau kekeringan. Hal itu disebabkan cuaca yang tidak terlampau ekstrem. "Di musim kemarau ini, terkadang masih turun hujan, sehingga sumur atau tangkapan air masih menyimpan cadangan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Susanto yang dihubungi, Minggu (20/9/2020).


    Edi menyampaikan, sampai bulan September 2020 ini, belum ada desa di Kabupaten Magelang yang minta bantuan droping air. Biasanya, sejak bulan Juni sudah ada permintaan droping air bersih dari desa yang mengalami kekeringan. "Namun hingga bulan September tahun ini, belum ada satupun desa yang minta bantuan droping air bersih," katanya.


    Menurut Edi, disamping karena cuaca yang tidak ekstrem, juga ada solusi yang bersifat permanen. Misalnya, banyak sumur yang dibuat oleh masyarakat. Selain itu, juga memelihara tangkapan-tangkapan air.


    Edi memberi contoh desa Margoyoso Kecamatan Salaman, sudah ada sistem air bersih yang dibuat oleh Lingkungan Hidup. "Ternyata ini mampu menyelesaikan problem air bersih," ujarnya.


    Diakuinya, belum semua desa melakukannya. Namun adanya budaya gotong-royong pada masyarakat, sehingga tetap mampu mengatasi problem kekurangan air bersih. "Misal di desa ini kekeringan, maka desa tetangga akan menyuplai air bersih di desa yang kekurangan. Gotong-royong warga masih kental sehingga ini menjadi solusi mengatasi kekurangan air bersih," imbuh Edi.


    Ia juga menunjuk contoh desa Kenalan Kecamatan Borobudur yang langganan droping air bersih. Biasanya, dua minggu setelah kemarau tiba, desa ini akan minta droping air bersih. "Namun tahun ini belum ada permintaan karena adanya suplai air oleh tetangga desa," jelasnya.


    Menurut kajian geologi, imbuh Edi, di desa Kenalan, lapisan batu keras dan tanahnya tipis. Sehingga apabila turun hujan, mudah menyimpan. Namun hal itu  tidak berlangsung lama, karena bila musim kemarau tiba, maka air cepat mengering.


    Ia menambahkan, setiap musim kemarau tiba, setidaknya ada 42 desa yang rutin minta bantuan droping air bersih. Sampai bulan September di tahun sebelumnya, biasanya BPBD sudah melakukan droping sekitar 600-700 tanki. Satu tanki berisi 5 ribu liter air.


    Air bersih selain dari BPBD juga bantuan dari CSR dan juga relawan.


    Dikatakan, droping air bersih adalah solusi jangka pendek. Sehingga solusi semacam itu tidak boleh dipertahankan. Yang dilakukan kemudian menambah daerah tangkapan air dan memfungsikannya dengan baik. "Daerah tangkapan air harus benar-benar di pelihara. Seperti di pegunungan Menoreh harus dijaga karena di sini merupakan daerah bebatuan," tegasnya.


    Suatu daerah, kata Edi, bila masih terus melakukan droping air bersih, berarti gagal dalam penanganan. "Droping air harus semakin kecil. Itu cara berpikir ideal. Untuk mencapai ideal, maka harus bergerak bersama," katanya.


    Dalam hal ini, BPBD bersama stakeholder lain seperti Bappeda dan Lingkungan Hidup, bersama-sama mencari solusi jangka panjang, bagaimana cara memperbanyak daerah tangkapan air dan menjaga air bersih di setiap lingkungan.

    Editor Slamet Rohmadi

    0 Komentar

    Tambahkan Komentar