Usai Angin Kencang, Petani Merbabu Kembali Berladang

Dilihat 653 kali
Warga Banyuroto Kecamatan Sawangan Kabuoaten Magelang kembali beraktivitas di ladang paska bencana angin kencang

BERITAMAGELANG.ID - Para petani di lereng Gunung Merbabu Kabupaten Magelang mulai kembali ke ladang pada Jumat (25/10/2019).


Aktivitas bertani itu sempat lumpuh akibat bencana angin kencang yang terjadi pada Minggu (20/10/2019) dan berlangsung hingga Senin (21/10/2019) kemarin.


Warga terpaksa mengungsi setelah rumah dan kampung mereka rusak akibat dilanda angin kencang. Namun, warga lereng Gunung Merbabu Kabupaten Magelang mulai meninggalkan tempat pengungsian untuk kembali ke rumah masing-masing pada Selasa (22/10/2019).


"Tidak mungkin ke ladang saat itu karena anginnya besar dan suaranya bergemuruh," kata salah satu warga Dusun Grenden Desa Pogalan Kecamatan Pakis, Siswanto.


Wilayah lereng Gunung Merbabu seperti Kecamatan Pakis, Ngablak dan Sawangan Kabupaten Magelang ini merupakan sentra pertanian penghasil sayuran dan palawija. Hasil panennya selalu melimpah, mencukupi untuk wilayah Jawa Tengah dan lainnya.


Dampak dari bencana angin besar itu, para petani Merbabu harus menanggung rugi karena bedengan (media) tanah yang siap tanam rusak parah. Selain itu benih yang sudah ditanam beserta plastik mulsa (penutup tanah agar tidak ditumbuhi rumput) hilang diterbangkan angin. Tak sedikit pula tanaman yang siap panen mati tercabut dari akarnya dan diantaranya patah.


"Ya terpaksa harus memulai dari awal lagi, termasuk modal lagi," jelas Siswanto.


Meski demikian, harapan tak pernah pudar karena bagi warga lereng Gunung Merbabu bekerja di ladang adalah ibadah yang harus dijalani.


"Ikhtiar terus mas, hasil panen semoga nanti melimpah," ungkap petani lain, Muhpuji.


Bencana angin kencang itu baru pertama kali terjadi apalagi dengan durasi yang lama.


"Cerita orang-orang tua dulu belum pernah terjadi. Penyebabnya juga tidak tahu," kenangnya.


Sebelum dilanda bencana angin kencang, wilayah hutan Taman Nasional Gunung Merbabu juga dilanda kebakaran hebat. Eksosistem hutan yang berubah itu, bagi warga Merbabu menimbulkan dampak yang panjang. Karena selain merusak tanaman angin yang datang dari puncak Merbabu itu juga telah merusak jaringan sumber mata air.


"Dulu air bersih mati karena pipa terbakar, sekarang mati lagi tertimpa pohon," cerita Muhpuji.


Dengan bergotongroyong warga di dusun terdampak angin kencang mulai menata hidup lagi. Sekuat tenaga mereka merehabilitasi ruang lingkungan dan alam Merbabu dengan cara sederhana.


"Kita perbaiki sendiri, rumah rusak dan jaringan air dari puncak," terangnya optimis.


Bencana memang tidak memilih korbannya. Hanya saja kesiapan dan kesabaran menjadi kunci dalam menghadapinya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar