Cara Unik Seniman Magelang Bantu Warga Terdampak Covid-19

Dilihat 901 kali
Seniman Ismanto dengan karya lukisnya yang siap dibarter di sanggar gadhung melati di desa Sengi kecamatan Dukun kabupaten Magelang

BERITAMAGELANG.ID- Seniman lereng Merapi, Ismanto (52) memiliki cara unik untuk membantu warga terdampak Covid-19. Ia rela melepas hampir seluruh karya lukisnya, untuk dibarter dengan bahan pangan yang akan didonasikan kepada yang terdampak Covid-19. Sistem barter sengaja ia gunakan dengan agar orang yang membarter lebih memiliki kepekaan dan rasa kemanusiaan pada kondisi saat ini.


"Bukan berwujud uang, namun saya lebih memilih barter lukisan dengan bahan pangan agar orang yang melakukan barter memiliki pengalaman batin yang humanis, ada nilai pendewasaan nalar, kejujuran, menghargai dan bersimpati," kata Ismanto yang juga pemilik sanggar Gadhung Melati di dusun Ngampel desa Sengi kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, Sabtu (18/4/2020).


Bukan hanya karya lukis, ada juga beberapa patung yang ia miliki serta kaligrafi. Lukisan yang akan dibarter juga bermacam-macam, ada lukisan soreng, gunung Merapi, Yesus, abstrak, binatang dan lain sebagainya. 


"Semua lukisan di sanggar ini akan saya barter, bahkan patung kepala Budha juga akan saya barter. Seluruh hasilnya saya salurkan kepada warga yang terdampak Covid-19," katanya.


Ismanto yang dikenal juga sebagai pematung dan pemahat berkelas ini merasa terketuk membantu para terdampak Covid-19, yang jumlahnya tidak pernah diketahui. Bahkan dampak yang akan mereka rasakan sampai kapan juga tidak diketahui karena penyebaran virus ini masih terus berkembang. Banyak warga yang kehilangan pekerjaan karena di PHK, usaha yang mulai melemah dan masih banyak penyebab lainnya.


Ia mengaku merasakan apa yang dirasakan para terdampak Covid-19. 


“Mereka pasti tercekik karena tidak bisa membeli sesuatu akibat tidak ada pekerjaan atau usahanya melemah," kata Ismanto.


Barter darurat ini merupakan lanjutan pengumpulan donasi pada 2010 saat Merapi erupsi. Saat itu ia bersama beberapa relawan berjibaku mengumpulkan donasi untuk dibagikan kepada korban erupsi. Saat itu ia melihat, warga yang terdampak sama sekali tidak bisa membeli kebutuhan pangan. Maka dia bersama dengan relawan yang membeli kebutuhan pokok seperti beras, sayur, minyak, telur, mie instan hingga peralatan rumah tangga. Ia bagikan semua kebutuhan pangan itu sampai belasan truk. Sasarannya menyasar dari rumah tangga sampai ke pondok-pondok pesantren. 


"Saat itu kita tidak pernah memandang agama dan ras atau apapun. Yang penting kita membantu yang membutuhkan. Banyak yang mempercayakan donasinya kepada kita," imbuhnya.


Dengan kondisi sekarang ini, dimana penyebaran Covid-19 masih terus berlangsung, tentunya dampak yang dirasakan masyarakat sangat memprihatinkan. Ia mengambil contoh di sanggarnya sendiri yang biasanya banyak pekerja, kini terpaksa dirumahkan karena pesanan tidak lagi ramai.


"Meski ada pekerjaan, karyawan mengerjakan di rumah mereka masing-masing dengan bayaran yang tidak menentu," ungkapnya.


Dengan barter karya lukisnya, ia berharap orang lebih bisa menghargai orang lain. Orang itu yang akan menghargai karya lukisnya, bukan dirinya yang menghargai. 


"Karena ini bukan jual beli yang berujung mencari untung, melainkan barter yang menyentuh hati nurani masyarakat untuk ikut membantu masyarakat lain yang benar-benar terdampak," jelasnya.


Menurut Ismanto, barter darurat yang baru ia gagas dua hari lalu, langsung mendapatkan respon dari banyak pihak terutama para kolektor lukisan. Juga orang lain yang banyak memiliki usaha. 


"Kita sentuh hati mereka untuk ikut membantu saudara-saudara kita yang terdampak," tuturnya.


Bahkan ada satu lukisan yang sudah 'dilirik' oleh seorang kolektor asal Jakarta, yakni lukisan Yesus. Orang itu menanyakan berapa nilai barternya. 


"Saya hanya menjawab bahwa yang membutuhkan orang banyak dalam tempo yang cukup lama. Misal 5 kg beras digunakan untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga dalam satu minggu, maka yang dibutuhkan dalam jangka berminggu-minggu. Di sinilah saya butuh kepekaan orang itu dengan rasa empati yang humanis. Ini merupakan marketing hati bukan cari keuntungan," imbuhnya.


Ismanto berharap, di masa sekarang ini, dimana orang harus banyak tinggal di rumah, mereka tidak tenggelam dalam kesedihan dan meratapi keadaan. Namun mereka tetap harus bangkit dan bergerak berusaha melakukan sesuatu terutama yang bisa bermanfaat untuk orang banyak.


Ia bahkan masih membutuhkan banyak kanvas untuk melukis yang kemudian akan dibarter. Meski ia juga pematung, namun ia lebih memilih karya lukis untuk bisa dibarter. Sebab melukis lebih mudah dikerjakan daripada membuat patung. Dalam sehari ia bisa melukis 5-15 buah lukisan dengan berbagai ukuran. 


"Kalau patung bisa berhari-hari dan saya harus butuh orang lain," katanya.


Kini, iapun menerima pesanan lukisan dari dermawan yang ingin barter. Misal lukisan hewan, bunga ataupun pemanndangan dengan ukuran yang kecil.


Ismanto mengatakan, bagi yang berminat untuk barter dengan karya lukisnya, bisa menghubungi nomor WA 08175490154 atau Sekar (085826605870).  


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar