Cabai Jenis Darmais F1 Mampu Tingkatkan Hasil Panen Berkualitas

Dilihat 167 kali
PANEN CABAI - Petik bersama tanaman cabai jenis Darmais F1 yang merupakan produk inovasi anak negeri di areal seluas 1.300 meter di Dusun Kragon, Desa Madyogondo, kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Foto ali subchi

BERITAMAGELANG.ID-- Sebanyak 1.000 tanaman cabai jenis Darmais F1 yang merupakan produk inovasi anak negeri di areal seluas 1.300 meter di Dusun Kragon, Desa Madyogondo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, mampu menghasilkan cabai berkualitas, karena 1 kilogram berisi 30 - 40 buah cabai, lebih sedikit dibanding cabai biasa yang 1 kilogram  berisi sekitar  60 - 70 buah.


"Cabai darmais F1 yang merupakan produk inovasi anak bangsa ini, usia panen lebih cepat, yakni sekitar 3,5 bulan. Hasilnya cukup bagus, karena kualitas buah cabai lebih besar," kata Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Ade Sri Kuncoro Kusumaningtyas, S.PMMA, saat petik bersama di Dusun Kragon, Desa Madyogondo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Kamis (3/9-2020).


Dalam petik bersama cabai tersebut, dilakukan Kepala Dusun (Kadus) Kragon, Sriyana Nugroho, Kepala Desa (Kades) Madyogondo, Sawal S.Sos, perwakilan PT Bintang Asia, Setyo Cahyo Nugroho, PT FMC Indonesia, Didik Samsul Hadi, serta para petani pemilik areal untuk tanaman cabai Darmais F1 yang tergabung dalam kelompok tani desa setempat.


Menurut Ade Sri Kuncoro, jumlah tanaman cabai sebanyak 1.000 batang, ditanam menggunakan micro ferti magnet teknologi, dan pencegahan hama virus menggunakan Perza dan Verimak dari PT FMC Indonesia, sehingga batang tanaman cabai kebal dari virus dan penyakit. Usia panen lebih cepat, dengan kualitas cabai lebih besar disbanding cabai biasa.


Maka di tengah wabah Covid-19 ini, tanaman cabai Darmais F1 ini sangat cocok, selain panen lebih cepat hasilnya luar biasa. Untuk itu, bagi petani holtikultura ini bisa direkomendasikan untuk ditanam bagi kelompok tani, karena hasilnya sangat bagus.


"Memang, selain sektor pariwisata yang sudah buka dan menyerap bahan baku sayuran  bagi warung makan, atau restoran di daerah wisata, maka menjadi menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pasar," katanya.


Selain itu, pemerintah mendorong dengan upaya optimalisasi lahan pekarangan, sehingga banyak warga sudah memiliki tanaman membuat kebutuhan pokoknya tersedia sebagai langkah ketiadaan pendapatan uang dari setiap keluarga.


"Pemerintah Kabupaten Magelang, juga  membuat kegiatan yang bisa membantu  penyediaan bibit tanaman holtikultura, agar banyak tanaman yang bisa dipanen," jelasnya.


Meski permintaan buah, sayuran maupun cabai masih terbatas, namun pemerintah telah menghimbau kepada ASN (Aparat Sipin Negara) untuk membantu para petani dengan cara membeli hasil pertanian dari daerah sendiri. "Adanya seruan dan himabuan, agar   ASN membeli produk hasil pertanian dari daerah sendiri," tambahnya.


Penyuluh Pertanian Kecamatan Ngablak, Karunia Budhi Setiawan, S.St menambahkan, terkait harga sayuran yang murah, maka solusinya adalah menjalin kemitraan dengan  pengolahan pasca panen (produk olahan lain), karena harga jatuh merupakan permainan tengkulak.


"Sebenarnya, permintaan sayuran termasuk cabai masih bagus, sebab pengiriman seminggu sekali kisaran 2-2,5 ton, dengan harga minimal Rp 9.000 per kilogramnya.  Kemarin harganya bisa mencapai Rp 10.000 per kilogram," terangnya. (ali subchi)

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar