Budaya Literasi Kuatkan Warga Dari Bencana Lahar Dingin Merapi

Dilihat 719 kali
Bincang Literasi paska bencana warga Desa Sirahan Kecamatan Salam Kabupaten Magelang Minggu (12/01/2020)

BERITAMAGELANG.ID - Kampung rumah dan harta benda boleh rusak musnah namun semangat untuk belajar terus menyala. 


Itulah gambaran warga Desa Sirahan Kecamatan Salam Kabupaten Magelang yang berhasil bangkit dari bencana lahar dingin Gunung Merapi sembilan tahun silam. 


Sembilan tahun silam, tepatnya tanggal 09 Januari 2010 wilayah Desa Sirahan yang berada di bantaran Kali Putih porak poranda terkubur material lahar dingin akibat erupsi Gunung Merapi. 


Sebagai salah satu wujud syukur, mawas diri dan renungan positif atas kejadian tersebut, warga Desa Sirahan menggelar Bincang Literasi 'Berenergi untuk Bersinergi' pada Minggu (12/01/2020).


"Harapan dari kegiatan literasi ini, kehidupan masyarakat di masa depan akan menjadi lebih," kata Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Magelang Tanti Zaenal Arifin dalam sambutan di acara tersebut.


Melalui otak, menurut Tanti seseorang mengenali dunianya, menyerap semua informasi dan pengalaman-pengalaman, baik yang sifatnya menyenangkan maupun menyakitkan. Tempat terbaik untuk menumbuhkan minat baca dan belajar pada anak adalah rumah dan orang tua. 


Pembelajaran di rumah berbeda dengan di sekolah karena pembelajaran di rumah terjadi setiap saat, tidak terikat dengan waktu, jadwal dan kurikulum. 


Untuk menumbuhkan minat baca dan belajar pada anak, orang tua perlu menjadi panutan dan contoh dengan terlebih dahulu gemar membaca dan terus belajar, mampu menciptakan aktivitas yang menyenangkan untuk anak, memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada anak, serta ikut bermain dan beraktivitas bersama anak untuk menumbuhkan keterikatan emosi.


"Pembelajaran di rumah bersifat alamiah dan dengan partisipasi orang tua secara aktif sehingga belajar dan membaca menjadi lebih menyenangkan untuk anak," paparnya. 

 

Menurutnya, terdapat enam kategori literasi yang harus dikuasai masyarakat maju, mencakup literasi membaca berpenalaran tinggi, literasi digital, literasi finansial, literasi ilmu menghitung, literasi atau numeri. Guna mewujudkan penyediaan bahan bacaan berkualitas, baik bacaan buku secara fisik, maupun materi-materi bacaan yang disebar di internet dibutuhkan sinergi lintas sektoral.


Acara yang didukung oleh Dinas perpustakaan dan kearsipan Daerah Kabupaten Magelang dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang tersebut berlangsung sederhana pehuh keceriaan. 


Selain penampilan kreasi seni anak-anak Desa Sirahan, juga digelar diskusi bersama penulis 'Pemulung Kata Kata' Maman Suherman.


Tuan rumah kegiatan Ida Fitri mengatakan bahwa konsep kegiatan ini menjadi sarana masyarakat mawas diri dan mensyukuri apa yang pernah terjadi. Selain itu menjadi sarana memasyarakatkan literasi kebencanaan melalui Melaui Taman Baca Masyarakat (TBM) Ibnu Hajar Sirahan. 

 

TBM Ibnu Hajar Juga bersinergi dengan sejumlah pihak untuk memajukaan masyarakat, khususnya pemulihan paska bencana


"Acara ini kita berkolaborasi dengan sejumlah pihak. Tema literasi kebencanaan ini juga yang pertama kali ada di Indonesia," kata Ida. 


Ida mengenang saat saat banjir lahar dingin terjadi, semua warga harus mengungsi. TBM Ibnu Hajar hancur dan sempat vakum. Namun, jajaran pengurus bersama warga tidak patah arang, terus bergerak melalui sejumlah program yang diantaranya dipelopori oleh ibu rumah tangga (anggota PKK) seperti, keaksaraan atau pengentasan buta huruf. Sastra tani, kelompok road and read ibu ibu PKK, dan PAUD.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar