BPBD Kabupaten Magelang Antisipasi Wilayah Kekeringan

Dilihat 161 kali
Seorang petani menaburkan pupuk di lahan pertanian Desa Majaksingi, yang mulai memasuki musim kemarau.

BERITAMAGELANG.ID - Musim kemarau melanda sejak Mei 2019. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang memetakan daerah rawan kekeringan pada musim kemarau ini.


Wilayah daerah yang paling parah dilanda kekeringan yaitu Kecamatan Borobudur dan Salaman. Untuk wilayah Borobudur ada di Desa Kenalan, Candirejo, Giritengah, Wringinputih, Kembanglimus, dan Kebonsari. Sedangkan wilayah Kecamatan Salaman meliputi Desa Margoyoso, Sriwedari, Ngargoretno dan Krasak.


"Untuk wilayah Kabupaten Magelang mulai terasa dampaknya biasanya di akhir bulan Juni sampai dengan awal bulan Juli," ungkap Kepala BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto, Rabu (17/7).


BPBD telah mengambil langkah antisipasi kekeringan dengan persiapan dropping air bersih ke daerah yang mengalami kesulitan air bersih di musim kemarau ini.


"Sampai dengan sekarang belum ada permintaan dropping. Tapi sudah kita siapkan 600 tangki . Kemudian kalau kurang kita bekerja sama dengan dunia usaha untuk alokasi CSR berupa bantuan air bersih, per tangki 5.000 liter," lanjutnya.


Sementara itu, kekeringan mulai dirasakan petani di kawasan Borobudur, minimnya sumber air memasuki musim kemarau ini, membuat petani bergiliran mendapatkan pasokan air dari Kali Sileng.


"Petani di Desa Majaksingi Borobudur mengandalkan air dari Kali Sileng dengan menggunakan pompa air.


Saat ini debit air Kali Sileng mulai sedikit, sehingga petani bergiliran untuk mendapatkan pasokan air," kata salah satu petani di Desa Majaksingi, Yanto.


Mayoritas petani di Desa Majaksingi Borobudur mulai menanami lahannya dengan tanaman musim kemarau, seperti Palawija atau Tembakau. Hanya sebagian kecil yang masih menanam tanaman musim hujan seperti Kangkung.


"Kebetulan saya masih menanam Kangkung, sehingga tanah pertanian harus selalu becek, dan itu membutuhkan air yang cukup agar bisa panen pada Agustus nanti," imbuh Yanto.


Diwawancarai terpisah, salah satu petani Tembakau di Dusun Klipoh Desa Karanganyar Borobudur, Nurcolis, mengatakan, kendala lain dalam tanam awal Tembakau ini adalah ketersediaan air, sedangkan kawasan tersebut sudah tidak turun hujan sejak awal Mei.


"Tanaman Tembakau usia 1,5 bulan masih membutuhkan siraman air. Sedang saat ini sudah tidak hujan lagi sehingga diperlukan pasokan air dari sungai.


Dan untuk pasokan air petani ambil dari Kali Sileng dengan menggunakan mesin pompa, dan itu harus bergiliran dengan petani lainnya," kata Nurcolis.


Nurcolis, menuturkan, dirinya memulai menanam Tembakau pada bulan puasa kemarin, sehingga masa panen nanti akan telat waktu.


"Perkiraan panen pertama Tembakau pada tahun ini adalah di akhir Bulan Agustus, oleh karena itu harus sudah ditanam mulai sekarang," ucap Nurcolis, yang mengelola enam hektar lahan pertanian Tembakau di Kecamatan Borobudur.


Menurut Nurcolis, jika terlambat menanam Tembakau maka pertumbuhannya tidak akan maksimal. Di samping itu persediaan air untuk menyirami tembakau akan berkurang.


"Bulan depan sudah memasuki musim Karo (puncak musim kemarau) dalam perhitungan Jawa, dimana jika Tembakau ditanam di musim tersebut pertumbuhannya akan terhambat alias tidak tinggi.


Oleh karenanya saat ini banyak petani tembakau ngebut mengolah lahan untuk segera ditanami bibit Tembakau," ujarnya.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar