BMKG : Suhu Dingin Ekstrim Bukan Fenomena Aphelion

Dilihat 3298 kali
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal saat di Desa Pekunden Kecamatan Ngluwar Kabupaten Magelang Sabtu (07/07).

BERITAMAGELANG.ID - Suhu dingin di Wilayah Magelang serta membuat masyarakat kaget oleh kabar embun beku di lereng pegunungan Dieng Wonosobo, menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, bahwa kejadian itu merupakan fenomena biasa yang disebabkan oleh kondisi meteorologis dan musim kemarau yang tengah terjadi saat ini. Bukan dampak dari fenomena Aphelion.


Fenomena es itu merupakan kejadian biasa pada saat puncak kemarau akibat suhu udara lebih dingin dan permukaan bumi lebih kering, jelasHerizal yang ditemui usai acara panen raya padi Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang digelar oleh Badan Meteologi, Kalimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah di Desa Pekunden Kecamatan Ngluwar Kabupaten Magelang Sabtu (07/07).


Sesuai analisa BMKG, imbuhnya fenomena yang terjadi saat ini tak lepas dari pembentukan awan dari kandungan air di dalam tanah yang menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara. 


"wilayah kita itu sangat komplek ada lereng ada pesisir, ada gunung. mungkin dilaut sudah cerah tapi disini (daratan) belum. Ditempat lain ada yang cerah lagi itu tempat pegunungan, nah yang cerah itu potensi terjadi embun beku tadi," terang Herizal.


Pada kondisi puncak kemarau saat ini, lanjut Herizal, di Jawa dan beberapa tempat yang berada pada ketinggian, terutama di daerah pegunungan, diprediksi mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0 derajat Celsius. Hal itu disebabkan molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dari pada dataran rendah sehingga sangat cepat mengalami pendinginan, lebih-lebih pada saat cuaca cerah tidak tertutup awan atau hujan. Sehingga menimbulkan suhu dingin.


Uap air di udara akan mengalami kondensasi pada malam hari dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan atau rumput. "Air embun yang menempel dipucuk daun atau rumput akan segera membeku karena disebabkan suhu udara yang sangat dingin, ketika mencapai minus atau nol derajat," ungkapnya. 


Lebih jauh Herizal berpesan bahwa, hal tersebut diatas menunjukkan bahwa fenomena aphelion tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan suhu di Indonesia. Sehingga diharapkan masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan terhadap informasi yang menyatakan bahwa akan terjadi penurunan suhu ekstrem di Indonesia akibat dari aphelion.


Selain di dataran tinggi Dieng, fenomena ini juga pernah dilaporkan terjadi di beberapa tempat lain di Indonesia, yaitu, daerah Gunung Semeru dan pegunungan Jayawijaya, Papua.


Editor Agus Munasir

0 Komentar

Tambahkan Komentar