Bawang Putih Magelang Terbaik di Nusantara

Dilihat 508 kali
Sosialisasi Gerakan Cinta Bawang Putih Lokal dalam mendukung pengembangan korporasi petani bersama Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) LPPM IPB di Desa Tegalarum Borobudur Kabupaten Magelang
BERITAMAGELANG.ID - Bawang putih Kabupaten Magelang menjadi idola petani nusantara. Bahkan saat ini keberadaan bawang putih dari Kabupaten Magelang menjadi bibit unggul yang direkomendasikan oleh Kementerian Pertanian.

Pada masa jayanya, bawang putih ditanam di 100 kabupaten. Namun, saat ini sentra pertanian bawang putih hanya tersisa di Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Karanganyar, Tual, Sembalun (Lombok, NTB), dan Solok (Sumatera Barat).

Luas lahan tanam bawang putih di Kabupaten Magelang tahun 2021 mencapai 703 hektar. Lahan tersebut tersebar di Kecamatan Kaliangkrik, Kajoran, Windusari, Sawangan, Pakis, dan Ngablak. 

Hasil panen bawang putih di Magelang diperkirakan mencapai 900 ton. Tingkat produktivitas panen bawang putih sekitar 6,5-7 ton per hektare. 

"Mulai yang ukuran umbinya kecil di Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran, sekarang komoditasnya sudah besar-besar. Diameter umbinya lebih dari 3 cm sudah bisa," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Ade Kuncoro Kusumaningtiyas Kamis (22/12).

Selain untuk konsumsi, bawang putih Magelang juga disiapkan untuk pembibitan. Spesifikasi bibit harus lebih dari 3,5 cm agar ukuran bawang putih jadi lebih besar.

Ade menyarankan petani sebaiknya menggunakan pupuk organik, mengatur tumpang sari tidak lebih dari 50 persen, dan mengairi lahan dengan baik agar hasil panen maksimal.

"Magelang menjadi sentra permintaan benih unggul selain Temanggung dan Wonosobo. Kebutuhan bibit 500 kg untuk 1 hektar lahan. Kita sudah ada lahan tanam 703 hektar," ujar Ade.

Para petani juga diharapkan selain mengejar hasil produksi, juga menyiapkan sarana pemasaran bawang putih dengan baik. Pemasaran tidak hanya fokus pada kemitraan, namun juga promosi ke seluruh Indonesia. 

Pengawas Mutu Hasil Pertanian pada Kementerian Pertanian, Hanang Dwi Atmojo menceritakan Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih sekitar 1994. Sentra penanaman bawang putih saat itu tersebar di 100 kabupaten dan hanya 10 persen kebutuhan yang dipenuhi dari impor. 

Kondisi itu bertahan hingga 1998. Krisis moneter dan dibukanya perdagangan bebas impor, menyebabkan harga jual bawang putih lokal kalah bersaing.

"Tahun 1998 kemampuan supply (bawang putih) kita bisa 95 sampai 98 persen. Hari ini sebaliknya, kita hanya memegang 5 sampai 6 persen dari pasar bawang putih nasional," kata Hanang saat berkunjung di Agro Edu Wisata AEW Kampung Rempah Tegalarum Borobudur baru baru ini.

Menurut Hanang, capaian minimal 25 persen pasar bawang putih bisa dicapai dengan memenuhi sejumlah syarat. Antara lain dengan menambah ukuran umbi dan gencar menyosialisasikan konsumsi bawang putih lokal. 

Selain itu biaya produksi bawang putih lokal juga perlu ditekan. Ongkos tanam yang tinggi menyebabkan harga jual bawang putih lokal lebih mahal dibanding bawang putih impor.

"Dengan break event point (BEP) sekarang untuk produksi bawang putih yang masih tinggi. Sehingga tidak mampu bersaing dengan harga bawang putih impor. Itu yang kami coba untuk menyamakan." jelasnya.

Loyalitas konsumen juga perlu ditingkatkan agar jumlah serapan bawang putih lokal di pasaran meningkat.

"Itu nanti baru ketemu setelah kita bisa bersaing di biaya produksi. Walaupun ukuran umbi sedikit lebih kecil, petani bisa kembali bersaing," ujar Hanang.

Kebutuhan bawang putih nasional saat ini 580 ribu-600 ribu ton per tahun. Lebih dari 95 persen kebutuhan bawang putih nasional dipenuhi dari impor.

Setiap tahun negara mengeluarkan devisa lebih dari Rp 8 triliun untuk membeli bawang putih dari luar negeri.

Berbeda dengan masa kejayaan tahun 1994, luas lahan budi daya bawang putih sekarang hanya tersisa 2 ribu hektar. Lahan yang dibutuhkan untuk mencapai swasembada bawang putih sekitar 26 ribu hektar. 

Sementara itu Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB Prof. Dr Muhammad Firdaus menilai peran pemerintah saat ini sangat mendukung pengembangan bawang putih. Bahkan untuk kualitas prospek bawang putih masih terbuka lebar.

Dalam upaya peningkatan mutu bawang putih nusantara diperlukan bibit unggul asal Kabupaten Magelang.

"Jadi kalau ditanya kondisi pertanian bawang putih di Magelang. Ya sudah pasti yang terbaik lah. Se-Indonesia karena nggak ada yang lainnya," tegas Firdaus.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar