ASN Kabupaten Magelang Ramai-Ramai Membeli Hasil Tani Aspartan

Dilihat 275 kali
Aspartan Gemilang menjual hasil taninya ke lingkungan Pemkab Magelang, Senin (4/5).

BERITAMAGELANG.ID - Di tengah pandemi Covid-19, pemerintah Kabupaten Magelang melalui Dinas Pertanian menjembatani para petani yang tergabung dalam Asosiasi Pasar Tani (Aspartan) Gemilang untuk memasarkan hasil pertaniannya. Dalam hal ini, Aspartan menggunakan mobil berisi berbagai produk pertanian, datang ke kantor-kantor pemerintah untuk menjual hasil produksinya.

Langkah ini nampaknya disambut sangat antusias para ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang. 


Berbagai macam hasil tani yang diproduksi petani yang tergabung dalam Aspartan ini, laris manis terjual. Aspartan menjual hasil taninya di halaman belakang kantor Dinas Pertanian dan Pangan, Senin (4/5/2020).


Aneka komoditas yang dijual diantaranya sayur seperti buncis, sawi, selada, wortel, kentang, tomat, cabe dan sebagainya. Ada pula produk jamu atau empon-empon, beras mentik wangi, IR 64, keripik sayur, bawang putih, bawang merah gula jawa, kacang-kacangan bahkan sampai racikan sayur seperti lodeh dan asem-asem serta kolak waluh. Ada pula ikan lele dan juga nila.


Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, Romza Ernawan mengatakan, di musim seperti sekarang ini, pihaknya membantu para petani untuk memasarkan hasil produksinya. Sebab tidak dipungkiri, diberlakukannya physical distancing pada pandemi Covid-19 ini, serapan hasil pertanian turun drastis.


Mobilitas masyarakat ke pasar tradisional ataupun modern menjadi rendah, karena harus menjaga jarak agar tidak menularkan atau tertular virus Corona. Demikian juga dengan distribusi ke luar daerah juga menurun, karena banyak distributor yang mengalami kegamangan dalam mengirimkan hasil pertanian. 


"Ini semua menjadi kendala dalam memasarkan hasil produksi pertanian," ujar Romza.


Oleh karena itu, Dinas Pertanian meminta kepada Aspartan yang dibentuk pada 2008 oleh Bupati Magelang, untuk jemput bola. Mereka mendatangi langsung konsumen untuk membeli hasil produksinya.


Selain itu, pihaknya juga mendorong petani menjual hasil dagangannya secara online. Sehingga pemasaran akan lebih luas dan konsumen juga nyaman dengan layanan secara online ini. 


"Kita nanti akan membantu memasarkan hasil tani secara online. Kita akan membuatkan aplikasinya," terang Romza.


Untuk penjualan juga tetap menerapkan standar kesehatan, seperti menggunakan masker serta jaga jarak.


Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Ade Sri Kuncoro menambahkan, pihaknya menjembatani para petani dengan konsumen dalam memasarkan hasil taninya. Karena sebelumnya, ia banyak mendapat keluhan dari mereka, banyak hasil produksi yang tidak laku di masa pandemi covid-19.


Selain itu banyak produksi pertanian yang tidak dihargai secara layak oleh tengkulak. Misal timun yang hanya dihargai Rp400/kg, juga cabai rawit yang hanya Rp6 ribu/kg. 


"Akhirnya banyak produksi tani yang tidak dipanen dan dibiarkan membusuk di lahan. Ini kan harus dicarikan jalan keluarnya," terang Ade.


Oleh karena itu, pihaknya berinisiatif agar Aspartan membawa hasil taninya ke SKPD-SKPD dan para ASN diminta untuk membeli. 


"Ternyata apresiasinya luar biasa. Banyak SKPD yang langsung meminta agar mobile Aspartan datang ke sana dengan membawa hasil produksinya," imbuhnya.


Menurut Ade, ada kelebihan bila membeli langsung ke Aspartan karena produk-produknya sehat, aman dan tidak tertular dengan segala bakteri atau penyakit. Karena untuk sayuran, Aspartan sudah menggunakan teknologi De Ozon. 


"Hasil tani yang sudah dipanen ini direndam di dalam cairan ozon yang berguna untuk membunuh bakteri dan jamur patogen yang merugikan sehingga aman dikonsumsi," terangnya.


Teknologi ozon ini sebagai pengawet makanan yang aman sudah dan diaplikasikan

oleh Anggota Aspartan. Teknologi ini merupakan alternatif untuk menggantikan penggunaan pengawet makanan berbahaya yang selama ini masih banyak digunakan.

Menurutnya, teknologi ini dapat menggantikan pemakaian formalin yang membahayakan kesehatan namun sampai sekarang masih banyak dipakai masyarakat untuk mengawetkan makanan.


Ketua Aspartan Kabupaten Magelang, Eko Sungkono mengungkapkan, organisasi ini didirikan sejak 2008. Namun, pemasaran secara mobile seperti sekarang ini, baru pertama kali dilakukan karena dampak pandemi Covid-19. Sebelumnya, Aspartan menjual produknya di Family swalayan, pameran-pameran dan juga langsung ke pasar-pasar modern. 


"Namun saat ini permintaan turun drastis lantaran banyak pasar modern yang tutup. Demikian pula banyak warga yang jarang ke pasar karena adanya social distancing. Daya beli sudah berkurang hingga 40 persen," ujarnya.


Karena itu, pihaknya harus berpikir kreatif bagaimana caranya agar hasil pertanian ini terjual. Salah satunya dengan menjual secara langsung kepada para pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang.


Ia mengaku gembira, karena di hari pertama ini, hasil pertanian banyak terjual. Ia juga berencana untuk keliling ke kantor-kantor yang lain.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar