8.000 Bibit Kopi Arabika Ditanam di Lereng Merapi

Dilihat 452 kali
Penanaman bibit kopi jenis arabika oleh Kelompok Tani Tumpangsari dan Komunitas Pelaku Kopi Magelang Yogyakarta di lereng Merapi

BERITAMAGELANG.ID - Kelompok Tani Tumpangsari Dusun Babadan 2 Desa Paten Kecamatan Dukun bekerja sama dengan komunitas dan pelaku kopi wilayah Magelang dan Yogyakarta menggelar tanam raya bibit kopi, Rabu (29/12).


Kegiatan tersebut dilakukan oleh sekitar 20 orang di lahan produktif yang berjarak sekitar 3,5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.


"Penanaman kali ini dalam rangka meningkatkan produktivitas komoditas kopi dari lereng Merapi, khususnya di Babadan 2 ini," kata Koordinator Produksi Kelompok Tani Tumpangsari, Slamet Wahyuni.


Sebanyak 8.000 bibit pohon kopi telah tersedia dan akan ditanam pada satu musim kali ini. Sementara penanaman yang dilakukan bersama komunitas dan pelaku kopi pada hari ini (29/12) sebanyak 2.500 bibit.


"Karena permintaan kopi Babadan ini setiap tahunnya meningkat, namun kami masih terkendala masalah kuantitas panen. Sehingga ke depan kami rasa akan kewalahan memenuhi tuntutan pasar ketika tidak kami tanam bibit mulai sekarang," lanjutnya.


Jenis yang ditanam adalah kopi dari jenis Arabica Lini S dan Longberry. Karena menurutnya Arabica Longberry memiliki biji kopi yang relatif besar sehingga diharapkan dapat mendongkrak produktivitas.


"Untuk saat ini sistem penanaman di wilayah kami masih menggunakan sistem Tumpangsari karena masih kami jadikan satu dengan tanaman sayuran yang lain," jelasnya.


Menurut Slamet, selama ini hasil panen kopi cukup bagus karena untuk satu pohon dapat menghasilkan sebanyak 10 kilogram biji kopi. Dan kopi dari wilayahnya sudah terekspor sampai dengan luar negeri.


"Hasil panen nanti dikumpulkan di kelompok tani, kemudian ada yang kita olah sendiri. Namun untuk yang Greenbean ini yang kita pasarkan di dalam maupun luar negeri seperti Mesir. Bahkan dari Belanda juga minta namun kami belum bisa memenuhi karena kuantitas yang diinginkan sangat banyak, kami belum mampu mensuplay," ungkapnya.


Bahkan menurut Slamet, di wilayahnya masih terdapat sekitar 68 hektar lahan produktif yang siap digunakan untuk menanam bibit kopi.


Pemilik usaha kopi dengan Branding Kota Kopi, Dio, asal Magelang mengatakan bibit yang akan ditanam tersebut ia dapatkan dari Kutoarjo. Bahkan kali ini adalah tahun kedua dirinya bersama pelaku dan komunitas yang lain melakukan penanaman kopi secara massal.


"Kita mendampingi saja, masyarakat di Babadan 2 ini untuk belajar bersama tentang kopi. Berawal dari suka kemudian bisa belajar bersama," katanya.


Selain di Babadan 2, dirinya bersama pelaku kopi yang lain juga telah menanam bibit kopi di wilayah Kujon Wonodoyo dan Selo Kabupaten Boyolali. Menurutnya, lereng gunung dipilih menjadi tempat penanaman karena selain suhunya yang cocok untuk kopi juga dalam rangka reboisasi serta mencegah longsor dengan tanaman-tanaman keras seperti kopi.


"Intinya kami ingin memberikan edukasi terkait kopi dari awal hingga akhir sehingga hal tersebut nantinya juga dapat menjadi penghasilan tambahan masyarakat sekitar," pungkasnya.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar